Friday, September 13, 2019

Sebuah Perjalanan


Bahkah pada saat tidurpun aku masih melakukan perjalanan. Terkadang dalam perjalanan tersebut menemui hal-hal yang tidak masuk akal.
*****
Kami bersama-sama meninggalkan ruang pertemuan. Berjalan bergerombol sambil bercanda. Setelah seharian duduk rasanya sangat senang bisa berjalan sambil bercanda. Sedianya kami akan kembali ke penginapan. Namun seorang teman mengajak kami untuk melihat-lihat beberapa tempat di kota besar ini. Ya kami berada di Jakarta.

Sebelum meninggalkan gedung pertemuan itu, aku pamit sama teman-teman untuk ke toilet. Beberapa dari kami juga menuju toilet. Ada sekitar 5 orang yang ke toilet termasuk aku. Tiga orang diantaranya cowok. Aku jelas melihat Jusman ke tolilet juga. Tapi kenapa begitu keluar toilet tidak satupun teman yang aku lihat? Entah aku yang kelamaan di toilet atau teman-teman tidak mendengar ketika aku pamit? Ketika keluar dari toilet, tidak satupun temanku yang kulihat. Padahal tadi kami ada ber-lima belas atau tujuh belas. 

Aku mencari-cari mereka di sekitar gedung tinggi itu. Suasana masih ramai, namun tidak ada satupun yang aku kenal. Hmm begitu cepat teman-teman pergi? Tapi mereka kemana? Mengapa sampai meninggalkan aku? Atau mereka tidak menyadari bahwa aku belum ada dalam rombongan?
Setelah hampir memutari area gedung dan tidak menemukan satu orang teman pun, aku memutuskan menyusuri jalan keluar yang ada di samping gedung. Aku memutuskan berjalan kaki. Entah kenapa pula aku yakin bahwa teman-teman ada di depan dan juga berjalan kaki.

Kiri kanan jalan sepi. Aku berpapasan dengan beberapa pengguna jalan yang menggunakan sepeda motor maupun mobil. Hanya aku yang berjalan kaki.
Tiba-tiba jalanan di depanku menanjak terjal. Sangat terjal. Aku hampir tidak percaya demi melihat jalanan yang berdiri serupa dinding. Kemiringan sembilan puluh derajat. 

Aku meneruskan langkah. Bukan lagi melangkah tapi tepatnya aku mendaki jalanan aspal itu. Bagaimana mungkin ada jalan sepeti ini, pikirku sambil tetap berusaha meneruskan perjalanan. Alhamdulillah aku berhasil melewati jalan terjal tersebut. Hanya saja HPku hampir jatuh. Untung kemudian berhasil memindahkan HP  dari saku ke mulutku. Ya aku menggigit HP sambil mendaki jalan tersebut.

Begitu tiba di puncak jalan, seorang bapak yang mengendarai sepeda motor warna merah kesulitan menurunkan motornya. Kami tadi berlawanan arah. Dia meminta aku membantunya menurunkan motor tersebut. Sambil memegang setir motornya, aku memandang jalanan di bawah yang baru saja kutinggalkan dengan perasaan takut jatuh. Aku ingin membantunya, tapi di sisi lain aku takut semakin tertinggal dari teman-teman.
Aku masih mematung memegang motor tersebut ketika tiba-tiba terdengar adzan.
Aku terbangun.

*****

Mimpi semalam,
Aku terbangun saat adzan subuh berkumandan.

Wednesday, September 11, 2019

Sore di Lembah Cinta

Aku menulis kisah ini dengan tujuan menjadi pengingat bagi diriku, ketika bermain ke hutan untuk lebih berhati-hati dan tidak memisahkan diri dari orang banyak.

Minggu 8 September
Sore, lepas Ashar, waktu itu sekira pukul 16.00, aku bersama Andev menuju Lembah Cinta di Desa Mattabulu. Sebuah spot wisata di tengah hutan pinus itu selalu menggoda kami untuk berkunjung. Kami memang kerap menghabiskan waktu di sana, terlebih jika lagi waktu libur. Bahkan beberapa kali kami menginap di Mattabulu. Suasana sejuk dan tenang di sana mampu menahan kami, membuat kami enggan melangkah pulang.

Minggu sore kemarin, akhirnya kami memutuskan menempuh jalan kecil di antara gunung dan jurang menuju Lembah Cinta. Kami tidak butuh waktu yang lama. Jalanan tidak begitu ramai. Kami hanya berpapasan beberapa pengendara yang sepertinya telah pulang dari Lembah Cinta Mattabulu.
Dalam perjalanan, kami mengobrol tentang cerita KKN di Desa Penari yang lagi viral itu. Perjalanan untuk mencapai Lembah Cinta membuat kami membayangkan bahwa kondisi jalanan tidak jauh beda seperti yang digambarkan dalam cerita Desa Penari tersebut. Begitu juga letak Desa Mattabulu mungkin kurang lebih sama dengan Desa Penari, sebuah desa di hutan.

Pada sebuah belokan yang agak tajam, tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku sedikit bergidik ketika mengingat omongan orang bahwa saat bulu kuduk tiba-tiba meremang, maka berarti ada makhluk tak kasat mata di sekitar kita. Aku berusaha mengatasi perasaan takut yang mulai menjalar. Aku melanjutkan obrolan dengan tema yang lebih ringan. Tapi lagi-lagi bulu kudukku meremang. Dua kali aku rasakan dengan jelas tengkuk-ku menjadi lebih dingin dari sebelumnya. 

Setelah beberapa menit, akhirnya kami tiba di Lembah Cinta. Arhul, teman kami tiba lebih dahulu. Kami mendapati Arhul sedang menikmati tuak manis. Kami langsung bergabung, menikmati tuak manis di antara pohon pinus. Cuaca yang dingin menambah suasana lebih nyaman.
Usai meminum tuak, aku dan Andev lalu sepakat jalan-jalan untuk mengambil beberapa gambar. Kami tidak masuk di kawasan wisata, yang saat itu masih terbilang ramai. Masih ada pengunjung yang bermain flying fox, serta melakukan kegiatan wisata lainnya. 

Kami memilih menyusuri jalan selasar yang arahnya menjauh dari lokasi wisata. Aku lalu mengatakan perihal tengkuk-ku yang tiba-tiba terasa dingin diperjalan tadi. Saat yang sama aku kembali merasakan tengku-ku lebih dingin. Serasa ada yang berdesir di belakan kami. Ternyata Andev merasakan hal yang sama. Tapi kami berusaha mengatasi perasaan itu. Kami terus melangkah.
Akhirnya kami menemukan jalan beton diantara pohon pinus.Kami lalu sepakat untuk mengambil gambar di tempat itu. Berhubung kami cuma berdua dan awalnya tak ada yang mau menjadi potografer, akhirnya kami sepakat menggunakan tripod. Kami mengambil beberapa gambar poto dan video untuk keperluan medsos kami. Hanya untuk bersenang-senang. Kami lalu melupakan perasaan aneh tadi. Kami benar-benar larut mengambil gambar.

Kami bergantian saling protes setiap kali melihat hasil gambar, apakah itu video atau poto sehingga kami mengulang beberapa adegan dan pose berkali-kali. Padahal adegan kami cuma berlari. Pose kami pun tidak macam-macam. Kalau tidak duduk ya berdiri. 

Selagi asyik melakukan kegiatan kami, beberapa petani pekebun lewat disamping kami. Mereka menggunakan motor sambil membawa hasil kebun. Mereka menatap kami dengan heran tapi kemudian menyapa kami dengan ramah. Aku lalu menyampaikan kepada mereka bahwa kami sedang mengambil beberapa gambar.

Tanpa kami sadari hari semakin sore. Memang kami tidak lagi pernah melihat jam. Kami fokus untuk melihat setiap poto atau video yang kami ambil. Lagipula matahari masih nampak terang, yang kami lihat di antara pohon-pohon pinus. 

Selagi kami asyik, ternyata disaat yang sama, teman kami telah kebingungan mencari kami. Pengunjung di lokasi wisata semakin kurang. Satu persatu mereka mulai pulang. Kami belum kelihatan di antara pengunjung. Arhul dan Endri akhirnya berkeliling mencari kami. Tapi nihil, mereka tidak menemukan kami. 

Sementara hari semakin sore. Jarum jam hampir menunjuk angka 18 (delapan belas). Teman-teman semakin gelisah. Mereka telah mengelilingi lokasi wisata, menanyai pengunjung apakah ada yang melihat kami. Tapi tidak seorang pun yang melihat kami. Ya kami memang tidak masuk di lokasi wisata tadi. 

Mereka lalu menyusun rencana, akan menunggu kami sampai pukul 18.00. Jika sampai waktu itu kami tidak ditemukan mereka sepakat meminta bantuan di desa bahkan berniat menghubungi BPBD.
Ohhh begitu resahnya mereka, mencari kami disaat kami lagi asyik dan tidak merasa cemas sama sekali. Kami tidak sadar bahwa waktu telah sore. Kami tidak tahu bahwa teman-teman kami gelisah mencari sejak tadi.

Perasaan Arhul semakin tidak enak. Dia hampir putus asa ketika kemudian dia melihat jalan selasar. Dia lalu mengajak Endri menyusuri jalan itu. Akhirnya mereka menemukan kami. Waktu itupun kami masih mengambil gambar.
Kami lalu diajak pulang. Diingatkan bahwa tidak baik berada di hutan saat menjelang malam. Kami seperti baru sadar dan segera menyudahi aktifitas kami. Tanpa rasa bersalah sedikit pun kami mengemasi peralatan lalu beranjak pulang. Bahkan masih sempat protes kalau kegiatan kami belum selesai. Arhul dan Endri hanya tersenyum kecut.

******

Selasa 10 September
Kami biasanya nongkrong di pelataran Galery UKM. Menikmati kopi dan roti bakar langganan kami. Lepas Isya aku menuju Galery UKM. Sebuah mesin ATM di tempat tersebut menjadi tujuan utamaku. Ternyata Arhul sudah duduk di meja (bookingan) kami. Teman-teman yang lain belum muncul. Dia lalu memesan milo panas dan roti. Sembari menikmati milo-nya dia lalu menceritakan upaya pencariannya pada Minggu sore kemarin. Aku menjadi terperangah, melongo dan sejenisnya. Sungguh aku tidak tahu bahwa mereka panik saat itu. Dan aku baru tahu malam ini. Dua hari setelah kejadian tersebut.

Aku berkali-kali meminta maaf. Aku bisa bayangkan betapa bingungnya dia saat itu.
“Kalau kalian tidak ditemukan, aku tidak pulang, aku minta tolong sama Mas Endri untuk mengabari orang di kampung untuk membantu kita mencari kalian. Aku juga meminta dia menghubungi BPBD atau apalah yang bisa mencari orang hilang di hutan.” Jelas Arul dengan mimik serius.
Aku geleng-geleng kepala mendengarnya. Aku bebar-benar tidak sadar bahwa kemarin itu telah membuat teman-teman kami resah.

“Maaf, aku dan Andev tidak tahu jika kalian mencari kami. Kami malah asyik ketawa-ketawa. Tidak menyadari jika hari semakin sore,” jelasku.
“Iya, yang kami takutkan, kalian hilang. Cuaca gelap bisa saja membuat kalian lupa kalian berada di mana. Tidak melihat jalan pulang, sementara waktu itu gelap mulai turun.” Lanjut Arhul.
Kami memang beberapa kali bermalam di hutan maupun di gunung. Tapi kami selalu bersama-sama, rombongan. Baru kali ini aku dan Andev pergi berdua, agak menjauh dari kerumunan.
Arhul lalu mengingatkan bahwa tidak aman menjauh dari kerumunan saat berada di hutan. Apalagi ketika menjelang malam. Bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar itu aku bergidik ngeri. Demi mengingat betapa tengkuk-ku terasa dingin saat aku mulai menyusuri jalan selasar, sore itu.

“Kami kan tidak jauh dari lokasi wisata. Apakah suara kami tidak kedengaran? Padahal aku dan Andev ngobrol, cukup keras suara kami.”
“Tidak sama sekali,” jawab Arhul.
“Yang membuat aku makin resah, aku naik ke baruga, mencari kalian dari ketinggian, tapi aku tidak melihat sama sekali.” Lanjut Arhul.
Padahal aku dan Andev berada tidak jauh dari Baruga.

*****

Buat teman-teman, terima kasih dan maaf. Terima kasih atas keresahan kalian saat kami tidak kelihatan. Ternyata masih ada yang peduli, dan maafkan telah membuat kalian capek mengelilingi tempat wisata dan sekitarnya demi menemukan kami.
Kalian bukan sekedar teman. Kalian adalah sahabat, dan bukan sahabat palsu

Monday, July 22, 2019

Berpacu Waktu menuju Sentul


Dalam setiap perjalananmu kamu akan dipertemukan orang baik. Yang menjadi dewa penolong saat kamu dalam situasi yang kepepet.

Jakarta, 14 Juli 2019.
Matahari kian condong ke barat. Aku baru saja tiba dari Pasar Tanah Abang ketika kakak mengajak ku ke Bogor. Segera aku berbenah, mandi dan berganti pakaian. Waktu sangat mepet, Magrib hampir menjelang.

Kami, ber-8 (delapan), lalu bergegas ke Stasiun Tanah Abang. Berbaur dengan antrian panjang yang layaknya ular hendak membeli tiket. Berikutnya kami mendapatkan kartu, lalu bergegas masuk stasiun dan menunggu kereta tujuan Bogor.

Tidak berapa lama, kereta tiba. Kami ikut berjejal menaiki kereta tersebut. Kondisi kereta lumayan penuh, mengingat hari sudah sore. Sepanjang perjalanan aku tidak mendapat tempat duduk. Tidak masalah berdiri dari Jakarta hingga Bogor, asal kami bisa tiba di Bogor, itu sudah lebih dari cukup.
Dalam perjalanan kami pun tak lepas dari rasa was-was melihat jarum jam yang bergerak detik demi detik. Hari ini kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Dhyba hingga pukul 21.00 malam. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 19.30.
Tiba di Bogor nanti, kami pun harus naik Grab lagi untuk menuju lokasi Dhyba, yang saat itu menginap di Sentul, tepatnya di Mess PMPP TNI ( Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia).

Untuk mengisi waktu, aku lalu mengobrol dengan kakak dengan menggunakan bahasa daerah (Bugis). Setelah obrolan kami selesai, seorang ibu yang duduk di samping kakak lalu menyapa kakak. Dia mengenalkan dirinya sebagai suku Bugis. Kami berasal dari daerah yang sama, Makassar. Ibu itu lalu menyarankan kami turun di Stasiun Bojong Gede, karena Sentul lebih dekat dari Bojong Gede di banding dari Kota Bogor.

Akhirnya kami sepakat turun di stasiun Bojong Gede. Setengah berlari kami keluar dari stasiun. Mencari posisi yang baik untuk kemudian mengorder Grab. Untuk ini bukan perkara mudah. Bojong Gede penuh sesak. Manusia dan kendaraan bersileweran. Kami lalu berjalan sekitar 100 meter dari stasiun.

Karena ber-8 (delapan), kami lalu mengorder 2 grab. Aku dan kakak berpisah. Dia gabung bersama suaminya dan kerabat kami dari Samarinda. Sedangkan aku gabung dengan keluarga dari Makassar.
Dalam suasana yang hiruk pikuk dan serba buru-buru itu, aku kemudian berhasil mendapatkan Grab. Oleh driver, aku diarahkan untuk berjalan beberapa meter lagi karena tidak dibenarkan Grab mengambil konsumen di area stasiun mengingat di sekitar situ ada banyak gojek yang beroperasi.
Aku berjalan melintasi rel kereta. Dan menunggu Grab di depan warung mie ayam seperti yang diarahkan oleh driver. Tidak berapa lama grabnya tiba. Kami berangkat. Sementara rombongan kakak belum berhasil menemukan grab. 

Sentul yang kami tuju ternyata masih jauh. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba disana. Itu dengan catatan kondisi jalan sedang tidak macet. Waktu menunjukkan pukul 20.00. Aku jadi cemas. Apalagi kondisi jalan cukup ramai dan beberapa kali perjalanan kami melambat karena macet.
HP ku berdering. Kakak menelepon, mengabarkan bahwa rombongannya belum mendapatkan grab sampai saat ini. 

Beberapa saat kemudian HP ku kembali bordering. Dhyba menelepon menanyakan posisi ku serta menyampaikan batas waktunya untuk bisa bertemu keluarga yang sisa beberapa menit.
Adalah Indra, yang mengantar kami malam itu, setelah mendengar percakapan aku dengan Dhyba, dia lalu berinisiatif mengambil jalan kompas menuju Sentul. Kami sedang mengejar waktu. Hampir setiap saat aku bertanya berapa menit lagi. Begitu juga Dhyba hampir tiap menit menanyakan posisi kami.

Aku lalu menyabarkan Dhyba, meyakinkan bahwa aku bisa tiba sebelum jam berkunjung habis. Sambil sekali-sekali aku bertanya pada Indra berapa jauh lagi.
Akhirnya kami tiba di lokasi yang di share Dhyba. Mess PMPP tersebut berada di ketinggian. Melewati jalanan berkelok dan mendaki.

Aku berlari menuju lokasi pertemuan, di mana Dhyba telah menunggu sejak pukul 16.00. Mengingat itu aku jadi sedih memikirkan ponakanku yang tentunya sangat mengharapkan kehadiran kami. Alhamdulillah akhinrya kami bertemu. Kami berpelukan. Senyum sumringah di bibirnya cukup menenangkan hatiku.

Kami lalu mengambil tempat di deratan meja dan kursi yang telah disiapkan untuk pertemuan dengan keluarga. Tidak banyak obrolan kami malam itu, mengingat waktu berkunjung hampir habis. Aku hanya mensupport dia, memintanya menjaga kesehatan untuk persiapan acara pelantikan PAJA (Perwira Remaja) Akpol 2019 di Istana Negara. Sekaligus menyampaikan salam dari ibunya yang tidak bisa menjangkau Sentul karena macet. Kami masih mengobrol ketika Dhyba dan kawan-kawan mendapat panggilan untuk apel. Waktu berkunjung selesai. Aku bersyukur ada waktu sekitar 10 menit duduk bersama Dhyba, sekedar mendengar kisahnya hari itu dan melihat senyumnya yang bersemangat. Kami lalu mengambil beberapa poto lalu berpisah.

Kembali ke Indra. Dalam perjalanan berangkat tadi, kami sudah meminta dia menunggu. Mengingat kondisi jaringan di Sentul yang kurang bagus (susah untuk order grab) dan tentunya susah mendapatkan kendaraan umum lagi karena lokasi tersebut cukup jauh. Kami merasa beruntung, Indra bersedia menunggu kami. Maka perjalanan kami PP Bojong Gede-Sentul-Bojong Gede diantar Indra.
Dalam perjalanan pulang itu yang kondisi jalannya penurunan, Indra baru menyadari bahan bakar mobilnya tidak seberapa. Karena kepanikanku waktu berangkat dan karena mengejar waktu membuat dia lupa kondisi bahan bakarnya. Waktu berangkat, aku yang was-was, dan waktu pulang gantian Indra yang was-was.  Dan betapa bersyukurnya kami ketika mendapati Pom Bensin di sisi kanan jalan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Selanjutnya kami mengejar kereta terakhir menuju Jakarta. Kami lalu meminta lagi ke Indra, seandainya kami ketinggalan kereta, kami meminta dia mengantar kami pulang. Dia pun setuju, sehingga kami merasa agak lega.
Aku bersandar di jok kursi belakang. Mencoba menikmati sisa perjalanan, mengingat dari berangkat hingga pulang dari Sentul merasa tegang terus. Indra membawa kendaraan dengan kecepatan sedang. Jalanan masih ramai, sehingga lagi-lagi beberapa kali perjalanan kami melambat. Tapi kali ini aku tidak lagi was-was. Toh kalaupun ketinggalan kereta, aku masih bisa tiba di Jakarta malam mini.
Kami lalu berpisah dengan Indra di depan stasiun. Dia menunggu beberapa menit untuk memastikan kami masih mendapat kereta terakhir. 

Terima kasih, Indra.
Entah bagaimana jika tidak bertemu dengan dia malam itu. Bisa jadi kami tetap mendapatkan grab, tapi belum tentu mau mengambil jalan pintas yang gelap dan sepi demi mengejar waktu. Bisa jadi kami mendapatkan grab malam itu, tapi belum tentu bisa mengerti kondisi kami.
Terima kasih, Indra yang hingga kereta terakhir berjalan masih memantau kami di mana dan tiba di Jakarta jam berapa. Semoga dapat bertemu kembali dalam suasana yang lebih santai, bukan lagi berkejaran dengan waktu. Semoga segala urusan Indra dilancarkan dan rezekinya dimurahkan. Aamiin.

Aku percaya, bahwa pada setiap perjalanan, Tuhan telah menyiapkan jalan keluar untuk semua situasi yang tidak bersahabat. Hanya untuk itu terkadang kita perlu berusaha lebih keras, salah satu contohnya, aku mesti berjalan melintasi kereta api malam itu.
#tripjuli2019

Friday, July 12, 2019

Keluarga Soga



Setiap kali aku datang ke Soga, (salah satu desa di Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng) aku selalu merasakan perasaan yang sama. Sejuk dan damai.

(Dulu) Karena tuntutan pekerjaan, akhirnya aku lebih sering berinteraksi dengan mereka selama tiga tahun. Dalam seminggu aku berkali-kali datang, berdiskusi dan belajar tentang banyak hal dengan mereka. Tentang bencana, lingkungan, perkebunan, wisata, kerajinan. Tentang anak-anak, pemuda, ibu serta bapaknya. Aku menjadi akrab dengan mereka.

Aku lalu mengenal beberapa sudut Desa Soga. Aku menemukan banyak keindahan disana. Alamnya indah, udaranya sejuk, penduduknya ramah. Aku benar-benar terpseona. Pantaslah seorang noni Belanda pernah bertahan tinggal beberapa bulan dan bahkan kembali lagi membawa keluarganya. Ya karena pesona Soga. Akhirnya aku tidak keberatan dengan ungkapan noni Belanda tersebut yang menyatakan bahwa Soga adalah sorga dunia yang tidak banyak diketahui orang.

Hari ini sebenarnya aku sangat sibuk. Pekerjaan di kantor tidak ada habisnya. Terhitung sejak usai libur lebaran Fitri kemarin, hampir tidak ada waktu luang. Ada beberapa kegiatan yang sedang jalan saat ini, serta ada beberapa kegiatan yang sementara kami rancang untuk kami laksanakan di waktu mendatang.

Biasanya, dengan kesibukan seperti ini, aku enggan meninggalkan kantor. Berkutat di ruanganku rasanya lebih tenang ketimbang pergi. Tapi hal itu tidak berlaku untuk hari ini. Malah sejak pagi aku mengawasi jam dinding. Aku telah merencanakan usai sholat Lohor aku akan izin meninggalkan kantor demi menghadiri acara Appy di Desa Soga.

Rahmat Afrianto yang lebih sering kusapa Appy, pemuda Soga yang kemudian menjadi salah satu keluargaku. Hari ini melangsungkan acara pernikahan dengan gadis pujaannya. Seminggu sebelumnya dia telah berkabar tentang hari bahagia ini. Dan ya, dia berharap aku hadir.
Lepas sholat Lohor, dengan suka cita aku mengendarai motorku. Menyusuri jalan-jalan yang telah sangat akrab denganku. Pepohonan nan hijau, udara yang sejuk, dan tentu saja jembatan gantung yang menghubungkan Desa Soga dengan Desa Mariorilau harus aku lewati. Aku bersenandung sepanjang jalan. Membayangkan pertemuan dengan keluarga Soga.

Mungkin perasaanku berlebihan ketika aku merasa bahwa mereka di sana adalah keluarga-ku. Tapi aku tidak dapat memungkiri perasaan itu. Meski kini aku tidak lagi bertugas di Soga, aku masih sering datang. Aku sangat bersyukur mereka disana masih mengingatku. Mengabari aku jika ada hajatan.
Akhirnya aku berani mengatakan bahwa Soga adalah rumahku. Tempat dimana aku tidak akan kelaparan dan tidak akan kedinginan.

Terima kasih untuk Bapak, Ibu, Kakak, Adik yang selalu menerimaku dengan baik. Terima kasih untuk Keluarga Bapak H. Budirman Azis, Bapak Hamzah, Bapak Nursam
Special thanks to  https://web.facebook.com/wawan.soga (wawan) yang mengajakku ke Soga kala itu. Siapa sangka kemudian aku mendapat tugas di Soga dan kemudian mendapatkan banyak keluarga di sana.