Sunday, August 22, 2010

perjuangaN hiduP

"Untuk apa...? Bukankah lebih baik tidur? Lagian hari ini hari libur."
Aku tersenyum mendengar kalimat penuh protes itu. "Aku tidak merasa ingin tidur, ada baiknya aku pergi saja," ucapku.

"Film di HBO asyik² lho. Tuch Fast and Furious diputar, nonton aja! Cobalah beri waktu untuk diri sendiri." Masih dicobanya menghalangi niatku lembur hari ini. Dia menjajari langkahku hingga ke garasi.

"Nontonnya ntar aja dech, aku berangkat dulu." Kunyalakan mesin si Supi (motor honda supra-ku) dan meninggalkan dia.


"Untuk apa...?" Sepanjang perjalanan kalimat tanya itu terngiang-ngiang.
Untuk apa? Aku tak perlu bilang padanya bahwa aku akan duduk satu jam atau mungkin lebih demi uang dua puluh ribu rupiah. Kalo dia tahu jumlah uang yang aku dapatkan untuk pekerjaan lemburku ini, aku yakian dia akan tambah kesal, tambah tidak mengerti dengan pikiranku.

Aku telah menjual waktu tidur siangku, waktu istirahatku (yang baru bisa kudapatkan lagi minggu depan) dengan uang dua puluh ribu rupiah. Inilah hidup... harus diperjuangkan.


Kunjungan Abang

Kepergian orang yang kau sayang senantiasa menyisakan duka meski kau tahu bahwa memang seperti itulah adanya. Dia harus pergi tanpa dapat di...