Friday, December 18, 2009

menanTi cintA

haruskah aku berdiri di tiap simpang jalan
menunggu dirimu di situ?
harapan...
antarkan dia kepadaku

Friday, December 04, 2009

rindU

“Rindu……
Tuntunlah langkahnya untuk menemukan diriku yang berdiri mematung di tepi penantian!”

Mengerjapkan mataku…, membiarkan airnya merembes di pipi yang kian cekung. Bisik hatiku tadi, selalu mampu membuatku menangis, oh bukan menangis, tapi bisik itu selalu mampu menciptakan aliran anak sungai di bukit pipiku walaupun tanpa gemercik. Yach… airnya mengalir perlahan. Menuruni bukit2 pipiku.

(ketika rindu)

Tuesday, October 20, 2009

dirimu adalah kenangan

dirimu adalah kenangan yang ta'kan kubiarkan pudar
dirimu adalah kenangan yang senantiasa hidup dalam jiwaku
ketika jarak dan waktu tak berpihak padaku
ketika semua nampak semu dan menyakitkan
kenangan akan dirimu menjadi semangat

Wednesday, July 15, 2009

kaU bertahaN

kau merasa sendiri
kau merasa ditinggal
lalu kau bertahan
atas rasa sakit dan kecewa yang mendera
namun tak urung matamu basah jua

kau merasa direnggut
kau merasa tak adil
tapi tiada protes
membiarkan semua terjadi
menanti waktu yang menjelaskan
memberi jawab atas tanyamu yang berkecamuk

kau sabar
kau berharap semua kan berlalu
kembali ke sedia kala
ketika bunga berbunga-bunga

kau bertahan
dalam sakitmu merenda harap
dalam perihmu membisikkan doa

Tuhan, kembalikanlah semua padaku
bisikmu...

Saturday, May 30, 2009

Tuesday, May 19, 2009

telaH berlaLu - utarA

telah berlalu, semua indah yang dulu jadi milikku
dihantar angin yang berdesau, melayang bak awan melintasi biru langit yang mulai kelam kala itu
lewati padang gersang yang telah lama kehilangan pohon-pohon peneduhnya, direnggut paksa para penjarah, merubah hutan hijau berganti padang
utara nan jauh yang tak mampu kugapai dengan kaki telanjangku yang mulai ringkih tempat yang dituju

telah kau bawa semua, ketika itu. tanpa sebait kata sebagai penjelas maksud atas semua yang terjadi.
tatapan tanya yang kuhunjam pada manik matamu tak buatmu bergeming, mengisahkan alasan peristiwa yang kurasa pilu.

sedih,
meringis hatiku demi melihat jari2mu menorehnya dengan sembilu. seruak air di telaga mataku sedapatnya kubendung. aku takkan menangis di hadapanmu. aku tak menunjukkan sedikitpun rasa padamu.

hilang semua rasa itu. kubiarkan terbang bersama angin. aku tak memiliki apa-apa lagi.

utara….
tempat yang kau pilih, meletakkan semua indah yang kau renggut dariku
utara…
tempat yang tak kan kupijak, kendati kaki ringkihku telah kuat menapak

Friday, May 01, 2009

suraT kekasiH

katakan padaku...!
semua yang kau ingin saat ini. aku ingin memberikannya padamu selagi aku ada waktu. ceritakan padaku, agar aku mampu memberikan yang terbaik untukmu, selagi aku bisa.

Monday, April 20, 2009

(taK relA) melepasmU


erat pelukmu belenggu jiwaku
aku tak pernah rela melepasmu
biarlah raga kita jauh, asal jiwa selalu menyatu
love u dede, guffy

Wednesday, April 01, 2009

paGi tertinggaL-diA salaH menilaikU

pagi pun tertinggal. matahari beranjak meninggalkannya, matahari menjulang, menjangkau biru langit nun di atas.

peluh mengalir di leherku. isu dampak global warming yang sejak dulu aku dengar di tv sekarang mulai terasa di kota ini. seingatku tahun lalu, cuaca tidak sekacau sekarang. panas yang menyengat kendati waktu masih pagi, hujan yang tiba-tiba mengguyur tanpa kabar sebelumnya. hmmm benar2 cuaca sulit diprediksi.

besandar di kursi merahku. kursi yang setiap hari aku duduki untuk bekerja, berkhayal ataupun ngobrol dengan teman2 dari dunia maya sampai dunia nyata.

ada yang menggayuti pikiranku. pukul 11.04 di monitor, hamper 12 jam aku mengucapkan istighfar dalam hati, namun aku merasa masih perlu melafalkannya demi untuk menemukan damai yang kucari.

resah. dia salah menilaiku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan itu. awalnya aku tidak berpikir akan menyimpulkan seperti itu. tapi setelah melewati malam yang gelap dan dingin. setelah dia berkali bertanya tentang yang aku inginkan darinya, akhirnya aku berpikir demikian.

hmm, dia salah menilaiku. aku tidak pernah berharap apa-apa darinya. tidak berpikir sesuatu benda atau bentuk. sebuah kebersamaan sudah lebih dari cukup.

aku jadi bertanya, adakah yang lebih berharga dari pada sebuah kebersamaan? aku gamang. tidak ada tempat untuk bertanya. atau kalau ada, aku tidak yakin dia memberikan jawaban yang bisa membuat aku yakin.

matahari semakin jauh. pagi sudah benar-benar berlalu. kalimat istighfar masih dilafaskan lidahku. mana damai yang kucari? aku tidak ingin pikirannya tentang diriku melekat dalam hatinya. dia harus tahu sebuah ketulusan yang menjadi dasar kebersamaan ini. tapi bagaimana aku menyampaikannya tanpa menoreh lembut hatinya.


Thursday, March 19, 2009

thE saD

mengatupkan mataku

hanya itu yang mampu kulakukan

menenangkan semuanya

mencoba meredam dalam hati

kenapa aku harus cemburu?

sebuah tanya yang tak mampu kujawab

Thursday, March 05, 2009

setelaH semuA terjaDi

setelah saling diam dua bulan yang lalu
setelah kembali berbicara tiga hari kemarin
setelah mempertahankan kebenaran versi masing2
setelah saling mencoba mengalah
setelah kemudian bergantian angkuh

adakah saat itu merasa sakit dan terluka...?

setelah semua itu
kita kembali merajut benang yang pernah kita tinggalkan dalam keadaan kusut
sahabat, maafkan dan kumaafkan pula dirimu.

Tuesday, February 03, 2009

pindaH ke selataN

“Bukankah lebih baik di sini?” Kucoba memecah sunyi yang melingkupi kami.

“Disini kamu mendapatkan semuanya, teman, sahabat, keluarga, pekerjaan. Untuk apa lagi kamu ke sana?”

”Aku telah memilih, Sa!”

”Tapi kamu masih bisa merubah pilihanmu. Tidak ada yang memaksa kamu mengambil pilihan itu kan?”

Dalam remang, samar kulihat dia menggelengkan kepala. Aku menghela nafas panjang, menengadah ke langit. Mencari bulan pucat yang tadi menghiasi langit. Mungkin ada untaian kalimat di sisinya yang bisa kubaca, kemudian kukatakan pada Ve hingga dia mau membatalkan rencananya.

Semakin sunyi. Ve telah beranjak masuk, merebahkan diri. Katanya hendak mencoba tidur agar besok bisa bangun pagi-pagi.

Ve, belum pergi pun aku sudah merasa sangat sunyi. Bagaimana jika besok engkau benar-benar berlalu?

Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Empat tahun terakhir Ve adalah sahabatku. Layaknya sudah seperti saudara. Bahkan kadang aku berpikir bahwa Ve lebih dari saudara. Ve adalah separuh dari diriku.

Kamar itu kosong. Entah jam berapa Ve pergi. Dia tidak pamit lagi padaku. Kurasakan dadaku hampa. Tangis yang semalam sudah merembesi mataku kini mulai lagi. Kuhirup nafas sekuatnya, kemudian ku hembuskan bersama teriakan yang cukup untuk membangunkan penghuni kost-kostan itu.

“Veeeeeeeeee....................” jeritku. Kemudian aku terjatuh di ambang kamarnya. Pandanganku kabur. Ya, aku menangis karena ditinggal seorang sahabat. Aku menangis ditinggal diriku yang lain.


.............mungkin pilihan untuk pindah/pergi kurang bijak, tapi di tempat baru bisa saja kamu mendapatkan hal baru yang bisa menghapus semua kisah sedihmu di tempat sebelumnya, aku pengen banget melangkah, aku pengen banget ke selatana. dan sebelum aku kesana, kubiarkan Sang Ve, memulainya..............

aku (masih).................


Monday, January 26, 2009

saaT kitA angkuH

kau angkuh
kupun demikian
ta'kan ada titik temu

sampai kapan seperti ini?
aku rindu hari2 kita

Tuesday, January 13, 2009

jenG, bersamA kainnyA

Berlutut

Tangannya sibuk mengurai benang kusut di pinggiran selembar kain yang lusuh.

Terik yang melelehkan peluh, debu yang hinggap...

Tak sedikit mengganggu asyiknya.

Aku berdiri tepat di belakangnya. Mengawasi tangannya yang dengan tekun mengurai benang kusutnya.

“Jeng”, panggilku. Aku terlonjak kaget (juga) mendengar suaraku. Kepala itu berputar, menoleh ke arahku.

“Kainnya sudah lusuh, diganti saja dengan kain yang baru, nanti kita cari kain yang motifnya persis sama dengan kainmu itu.”

Kepala itu kembali berputar ke arah semula. Tunduk terpaku pada kain yang lusuh. Usulku tadi bagai angin lalu. Aku pun tak mengerti apa makna kain itu baginya. Tak lebih dari selembar kain berukuran 1 kali 1 meter. Motif burung meraknya pun telah mulai pudar. Menandakan betapa telah lamanya kain itu di gunakan.

”Untuk apa kain itu kau gantungkan di jendelamu? Kalau memang kau sayang kain itu, jaga baik-baik, simpan di lemari, jangan biarkan terkena sinar matahari supaya warnanya tidak pudar.” Suaraku lagi.

”Kain ini, aku gantungkan di jendela, agar aku tahu saat angin masih berhembus, berlalu di depan jendelaku.” Kepala itu sekarang menghadap kepadaku.

”Agar wangi kain ini terbang bersama angin. Melintasi hutan, gunung, turun ke lembah, menyusuri sungai, hingga berlabuh ke laut.” Kepala itu mendongak, tengadah menatap awan.

Ah.. dia memulai lagi, perjalanan wisata bersama imajinasinya. Aku akan ditinggalkannya beberapa saat disampingnya. Detik berikutnya Jeng (begitu aku menyapanya-aku tidak tahu siapa namanya) telah berada entah di negeri yang mana.

Matahari condong ke barat. Semburat jingga membentuk sapuan yang sangat indah. Jeng tak peduli walau dia menatap kesana. Dia masih di tempatnya tadi, tersenyum, terpejam, kadang berbisik.

Kakiku mulai pegal. Berdiri menunggui Jeng yang sedang berwisata imajinasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi anehnya, aku selalu enggan beranjak dari sisinya. Aku menyimpan seribu tanya tentang kain lusuhnya. Enam bulan bersamanya tidak juga mampu membuat aku mengerti makna kain lusuh itu.

”Adakah ia pemberian seseorang yang sangat berarti?”

Perlahan kepala itu bergerak. Menatap datar ke barisan pohon yang berada di sisi kiri kami. Tarikan nafasnya meningkahi desau angin.

Lalu matanya berpindah menatapku. Lekat memandangku, seakan mencari sesuatu disana.

”Aku tidak menemukannya di matamu. Pantaslah engkau tidak mengerti, sama dengan orang-orang yang bertemu aku sebelumnya.”

Jeng mendekap kain lusuhnya.

”Adalah rindu yang kau jaga, tak kau lepas sejenak pun. Kau hidupkan dalam dadamu agar kau selalu punya harapan. Berharap angin berhembus membawa wangi rindumu mencari sosok yang membuat engkau merindu.”

”Aku tidak mengerti, Jeng.

”Kain ini adalah hatiku. Yang pudar, yang rapuh yang hampir tak berbentuk yang sama sekali tidak menarik karena terjajah rindu.” Dia berhenti. Kembali menarik nafasnya. Sedangkan aku yang tak menyangka dia berkata demikian, menjelaskan makna kain itu, menjadi tercekat.

”Kain akan selalu ku jaga. Seperti aku menjaga agar selalu mempunyai hati, walaupun telah lusuh, agar aku selalu memiliki rindu walau telah lusuh. Lebih baik memiliki hati yang lusuh dari pada tidak punya hati sama sekali.

jenG, bersamA kainnyA

Berlutut

Tangannya sibuk mengurai benang kusut di pinggiran selembar kain yang lusuh.

Terik yang melelehkan peluh, debu yang hinggap...

Tak sedikit mengganggu asyiknya.

Aku berdiri tepat di belakangnya. Mengawasi tangannya yang dengan tekun mengurai benang kusutnya.

“Jeng”, panggilku. Aku terlonjak kaget (juga) mendengar suaraku. Kepala itu berputar, menoleh ke arahku.

“Kainnya sudah lusuh, diganti saja dengan kain yang baru, nanti kita cari kain yang motifnya persis sama dengan kainmu itu.”

Kepala itu kembali berputar ke arah semula. Tunduk terpaku pada kain yang lusuh. Usulku tadi bagai angin lalu. Aku pun tak mengerti apa makna kain itu baginya. Tak lebih dari selembar kain berukuran 1 kali 1 meter. Motif burung meraknya pun telah mulai pudar. Menandakan betapa telah lamanya kain itu di gunakan.

”Untuk apa kain itu kau gantungkan di jendelamu? Kalau memang kau sayang kain itu, jaga baik-baik, simpan di lemari, jangan biarkan terkena sinar matahari supaya warnanya tidak pudar.” Suaraku lagi.

”Kain ini, aku gantungkan di jendela, agar aku tahu saat angin masih berhembus, berlalu di depan jendelaku.” Kepala itu sekarang menghadap kepadaku.

”Agar wangi kain ini terbang bersama angin. Melintasi hutan, gunung, turun ke lembah, menyusuri sungai, hingga berlabuh ke laut.” Kepala itu mendongak, tengadah menatap awan.

Ah.. dia memulai lagi, perjalanan wisata bersama imajinasinya. Aku akan ditinggalkannya beberapa saat disampingnya. Detik berikutnya Jeng (begitu aku menyapanya-aku tidak tahu siapa namanya) telah berada entah di negeri yang mana.

Matahari condong ke barat. Semburat jingga membentuk sapuan yang sangat indah. Jeng tak peduli walau dia menatap kesana. Dia masih di tempatnya tadi, tersenyum, terpejam, kadang berbisik.

Kakiku mulai pegal. Berdiri menunggui Jeng yang sedang berwisata imajinasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi anehnya, aku selalu enggan beranjak dari sisinya. Aku menyimpan seribu tanya tentang kain lusuhnya. Enam bulan bersamanya tidak juga mampu membuat aku mengerti makna kain lusuh itu.

”Adakah ia pemberian seseorang yang sangat berarti?”

Perlahan kepala itu bergerak. Menatap datar ke barisan pohon yang berada di sisi kiri kami. Tarikan nafasnya meningkahi desau angin.

Lalu matanya berpindah menatapku. Lekat memandangku, seakan mencari sesuatu disana.

”Aku tidak menemukannya di matamu. Pantaslah engkau tidak mengerti, sama dengan orang-orang yang bertemu aku sebelumnya.”

Jeng mendekap kain lusuhnya.

”Adalah rindu yang kau jaga, tak kau lepas sejenak pun. Kau hidupkan dalam dadamu agar kau selalu punya harapan. Berharap angin berhembus membawa wangi rindumu mencari sosok yang membuat engkau merindu.”

”Aku tidak mengerti, Jeng.

”Kain ini adalah hatiku. Yang pudar, yang rapuh yang hampir tak berbentuk yang sama sekali tidak menarik karena terjajah rindu.” Dia berhenti. Kembali menarik nafasnya. Sedangkan aku yang tak menyangka dia berkata demikian, menjelaskan makna kain itu, menjadi tercekat.

”Kain akan selalu ku jaga. Seperti aku menjaga agar selalu mempunyai hati, walaupun telah lusuh, agar aku selalu memiliki rindu walau telah lusuh. Lebih baik memiliki hati yang lusuh dari pada tidak punya hati sama sekali.

berbaGi

Assalamu Alaikum

Berbagi, itulah yang pertama kali terekam di otakku ketika aku memulai tulisan ini. Menceritakan sebagian keluh kesahku berarti mengurangi bebanku dengan cara membaginya kepadamu.

Aku mulai saja....
Setelah kejadian dini hari itu, kami sudah tiga kali bertemu. Kami bertemu dengan singkat. Kami berbicara apa adanya dan sangat kaku. Sangat berbeda dengan kebiasan kami dulu.

Kami bisa duduk berjam-jam tanpa henti bicara, tertawa dan saling meledek. Kami bicara tentang segala hal, dari a sampai z, bicara sampai di empat penjuru mata angin dan berbicara tentang semua unsur di bumi. Tapi sekarang....kami hanya berbicara tentang satu hal dan dalam tempo yang sangat singkat.

Tawa kami telah menguap ke udara....

Sangat asing. Aku hampir tidak mengenal dia lagi. Sungguh dia bukan yang kulihat selama ini. Aku menemukan kamuflase di dirinya dari kepala hingga kakinya.

Sore ini, pertemuan kami yang ketiga. Aku berusaha santai. Mengurai kesal yang sempat menggayuti hatiku beberapa hari. Aku bukan berbicara dengan dia yang ku kenal dulu. Aku berbicara dengan orang yang baru. Dengan berpikir demikian aku berharap aku tidak perlu marah, kesal, kecewa atau sedih jika dalam pembicaraan kami yang singkat ada lagi kalimat yang salah. Ada pemahaman yang salah, apakah itu dari aku atau dari dia.

Alhamdulillah, usai sudah pembicaraan kami. Tidak lebih dari lima menit. Tidak ada kemajuan. Tidak ada tanda2 kami akan kembali seperti dulu. Tidak ada tanda2 kami akan menggenggam kembali tawa yang menguap itu. Dia pamit berlalu dan akupun beranjak pergi, dan semua itu tanpa tawa. Tanpa tanya apakah nanti kami ketemu lagi. Benar2 tanpa harapan.