Monday, October 24, 2016

perjalanan, pada rel kereta

Entah telah berapa lama niat itu ada. Setiap kali melintas rasanya ingin berhenti sejenak, menjejak kaki dan menebar senyum. Merasakan belai angin dan dan sapaan matahari. Menikmati aroma hijau yang ada di sekitarnya. Aku telah terpesona dengan bentangan bangunan rel kereta api yang membelah persawahan di Kabupaten Barru itu. Telah ada poto beberapa teman yang mereka upload di medsos. Membuatku berandai-andai kala melihat poto2 mereka. Betapa tidak, aku memang pernah melakukan hal yang sama, berpoto di rel kereta. Tapi untuk itu aku mesti ke Pulau Jawa dulu. Sesuatu....
Seiring perjalanan waktu. (mungkin) Melalui debat yang panjang diantara para petinggi2 di Sulsel... akhirnya rel kereta pun mulai dibangun di beberapa kabupaten. Kendati tidak melewati Kabupaten Soppeng maupun Bone (dua kota tempat tinggal-ku) tapi aku tetap merasa hepi. Sebentar lagi. Ya sebentar lagi alat transportsi yang dulu hanya merupakan dongeng bagiku akan ada di sini. Di Sulawesi Selatan. Dan In Sha Allah bisa aku gunakan untuk melihat tempat2 lain di Pulau Sulawesi yang hingga saat ini belum pernah aku kunjungi.
Melihat bentangan rel itu.... berderet nama kota mulaui tersusun rapi di kepalaku. Rencana perjalanan mulai tersusun secara otomatis. Ahh rencana perjalanan selalu mampu menggoda otakku. Sesuatu yang sangat seksi bagiku. Lebih2 perjalanan-nya. Sesuatu yang mampu membuat aku berubah pikiran dengan sangat cepat. Berdiri di rel kereta. Membayangkan kereta melintas, berpoto, tersenyum dan berdoa. Semoga diberi umur panjang agar dapat menikmati perjalanan dengan kereta. Semoga diberi rezeki agar dapat dengan mudah mewujudkan niat perjalanan dengan kereta

Friday, August 12, 2016

ayah, aku dan agustus

selamat siang ayah. agustus tiba lagi. apakah disana kau kibarkan bendera merah putih juga? Alfatihah untuk ayah dan ibu
Ayah. Agustus tiba. Bulan merah putih yang penuh kenangan bagiku. Kenangan tentang-mu. Terkenang akan kesabaranmu membenahi rumah, halaman dan pagar kita.
Agustus yang cenderung panas. Hangat matahari sedari pagi telah terasa. Dan semilir angin yang juga kering. Namun menebarkan aroma yang menggoda hidungku. Yah Aroma agustus ini yang (mungkin) hanya tercium oleh hidungku. Aroma yang membangkitkan kenanganku akan dirimu, Ayah.
Aku rindu mengecat pagar. memasang umbul2, membakar sampah. Rindu melakukannya bersamamu. titip rindu, titip doa