ada saat kau ingin pergi. berlalu sejenak dari jalur hidupmu. ingin menyepi di sebuah tempat yang tak terjangkau oleh mereka, orang2 yang tiap hari bersama-mu. orang2 yang mungkin pernah membuatmu tertawa, bersemangat dan juga menangis di lain waktu.
kehidupan seperti itu adalah sebuah proses yang sangat lumrah. bisa dialami oleh kamu, aku, dia, kita, mereka, semua. kadang kehidupan ini terasa berat menekan. tak mampu, tak kuasa bahu kita menahannya. tak kuasa kaki kita menopangnya... tapi pada saat itu kita tak boleh mengalah, menyerah begitu saja. selalu ada peluang untuk mencoba menjalani kehidupan yang normal seperti sebelumnya.
melepas pandang nun jauh, mencari bintang di balik kabut. bolehlah ia menjadi kisah, yang kututurkan lewat kataku. "a light of miracle"
Monday, May 30, 2011
Thursday, March 31, 2011
sebuaH jendeLa
Kubiarkan jendela (itu) terbuka setiap saat, agar mudah bagiku memandang ke sana.
Aku pernah melihatnya disana. Seperti matanya mencari sesuatu. Apakah dia mencariku? Mencari sosok yang sekian lama mendambanya..? Ah sebuah tanya yang tak pernah berani ku pinta jawabnya.
Suatu hari yang lain. Lewat jendela itu, kembali kulihat dirinya. Dia tak sendiri. Seseorang bersamanya. Mereka terlibat pembicaraan yang lama, dan kelihatan akrab. Ada sesuatu yang terjadi di relung hatiku. Terasa nyelekit... Siapakah yang bersamanya? Jadi dulu dia tak mencariku...? Walaupun dia berdiri di seberang jendelaku...? Pertanyan lain yang tak akan pernah kupinta jawabnya.
Aku benci jendela itu. Aku menutupnya... tak ingin membukanya lagi. Tak berani lagi aku melihat ke sana lewat jendela itu.
"Apa salah sang jendela?" Separuh bagian dalam diriku bertanya. Bagian yang menjadi korban ketika jendela tertutup. "Jendela tak pernah bergeming, tak berbisik, tak mempengaruhi... jadi apakah jendela yang salah jika dia telah bersama seseorang? Kamu benar2 menjadi buta," amuk separuh bagian dalam diriku.
Kupandang jendela yang sekian lama kututup. Tak ada dendam yang tergurat meski aku telah semena-mena padanya. "Baiklah aku membuka kembali jendela," ucapku sambil melepas kaitnya.
Angin menyapa lembut wajahku begitu aku membuka jendela lebar2. Dengan mengucap basmalah aku menatap kesana. Tak ada siapa-siapa. Tak ada dirinya berdiri sendiri ataupun berdua. Kupandang lebih jelas lagi. Benar, tak ada siapa-siapa
Resah...! Kemana dirinya? Mengapa tak di seberang jendelaku lagi? Ah mungkin hari ini sibuk. Mungkin sebentar sore dirinya datang.
Tapi sampai sore tiba dirinya tak juga datang. Aku menunggu. Hingga malam, dia tak datang juga. Kuputukan tak menutup jendela malam itu, agar mudah bagiku melihat kesana setiap saat.
Aku lupa kapan aku tidur. Aku bangun saat merasakan panas yang lembut di wajahku. Ah sinar matahari yang masuk lewat jendela itu. Aku melompat mendekat ke jendela, dan.... ah dia belum juga ada disana.
Sebuah jendela.... biarkanlah terbuka agar mudah bagiku melihat kesana setiap saat. Agar mudah bagiku melihat dia... tak peduli dia sendiri atau sedang berdua... aku hanya ingin melihat dia...
Aku pernah melihatnya disana. Seperti matanya mencari sesuatu. Apakah dia mencariku? Mencari sosok yang sekian lama mendambanya..? Ah sebuah tanya yang tak pernah berani ku pinta jawabnya.
Suatu hari yang lain. Lewat jendela itu, kembali kulihat dirinya. Dia tak sendiri. Seseorang bersamanya. Mereka terlibat pembicaraan yang lama, dan kelihatan akrab. Ada sesuatu yang terjadi di relung hatiku. Terasa nyelekit... Siapakah yang bersamanya? Jadi dulu dia tak mencariku...? Walaupun dia berdiri di seberang jendelaku...? Pertanyan lain yang tak akan pernah kupinta jawabnya.
Aku benci jendela itu. Aku menutupnya... tak ingin membukanya lagi. Tak berani lagi aku melihat ke sana lewat jendela itu.
"Apa salah sang jendela?" Separuh bagian dalam diriku bertanya. Bagian yang menjadi korban ketika jendela tertutup. "Jendela tak pernah bergeming, tak berbisik, tak mempengaruhi... jadi apakah jendela yang salah jika dia telah bersama seseorang? Kamu benar2 menjadi buta," amuk separuh bagian dalam diriku.
Kupandang jendela yang sekian lama kututup. Tak ada dendam yang tergurat meski aku telah semena-mena padanya. "Baiklah aku membuka kembali jendela," ucapku sambil melepas kaitnya.
Angin menyapa lembut wajahku begitu aku membuka jendela lebar2. Dengan mengucap basmalah aku menatap kesana. Tak ada siapa-siapa. Tak ada dirinya berdiri sendiri ataupun berdua. Kupandang lebih jelas lagi. Benar, tak ada siapa-siapa
Resah...! Kemana dirinya? Mengapa tak di seberang jendelaku lagi? Ah mungkin hari ini sibuk. Mungkin sebentar sore dirinya datang.
Tapi sampai sore tiba dirinya tak juga datang. Aku menunggu. Hingga malam, dia tak datang juga. Kuputukan tak menutup jendela malam itu, agar mudah bagiku melihat kesana setiap saat.
Aku lupa kapan aku tidur. Aku bangun saat merasakan panas yang lembut di wajahku. Ah sinar matahari yang masuk lewat jendela itu. Aku melompat mendekat ke jendela, dan.... ah dia belum juga ada disana.
Sebuah jendela.... biarkanlah terbuka agar mudah bagiku melihat kesana setiap saat. Agar mudah bagiku melihat dia... tak peduli dia sendiri atau sedang berdua... aku hanya ingin melihat dia...
Sunday, August 22, 2010
perjuangaN hiduP
"Untuk apa...? Bukankah lebih baik tidur? Lagian hari ini hari libur."
Aku tersenyum mendengar kalimat penuh protes itu. "Aku tidak merasa ingin tidur, ada baiknya aku pergi saja," ucapku.
"Film di HBO asyik² lho. Tuch Fast and Furious diputar, nonton aja! Cobalah beri waktu untuk diri sendiri." Masih dicobanya menghalangi niatku lembur hari ini. Dia menjajari langkahku hingga ke garasi.
"Nontonnya ntar aja dech, aku berangkat dulu." Kunyalakan mesin si Supi (motor honda supra-ku) dan meninggalkan dia.
"Untuk apa...?" Sepanjang perjalanan kalimat tanya itu terngiang-ngiang.
Untuk apa? Aku tak perlu bilang padanya bahwa aku akan duduk satu jam atau mungkin lebih demi uang dua puluh ribu rupiah. Kalo dia tahu jumlah uang yang aku dapatkan untuk pekerjaan lemburku ini, aku yakian dia akan tambah kesal, tambah tidak mengerti dengan pikiranku.
Aku telah menjual waktu tidur siangku, waktu istirahatku (yang baru bisa kudapatkan lagi minggu depan) dengan uang dua puluh ribu rupiah. Inilah hidup... harus diperjuangkan.
Aku tersenyum mendengar kalimat penuh protes itu. "Aku tidak merasa ingin tidur, ada baiknya aku pergi saja," ucapku.
"Film di HBO asyik² lho. Tuch Fast and Furious diputar, nonton aja! Cobalah beri waktu untuk diri sendiri." Masih dicobanya menghalangi niatku lembur hari ini. Dia menjajari langkahku hingga ke garasi.
"Nontonnya ntar aja dech, aku berangkat dulu." Kunyalakan mesin si Supi (motor honda supra-ku) dan meninggalkan dia.
"Untuk apa...?" Sepanjang perjalanan kalimat tanya itu terngiang-ngiang.
Untuk apa? Aku tak perlu bilang padanya bahwa aku akan duduk satu jam atau mungkin lebih demi uang dua puluh ribu rupiah. Kalo dia tahu jumlah uang yang aku dapatkan untuk pekerjaan lemburku ini, aku yakian dia akan tambah kesal, tambah tidak mengerti dengan pikiranku.
Aku telah menjual waktu tidur siangku, waktu istirahatku (yang baru bisa kudapatkan lagi minggu depan) dengan uang dua puluh ribu rupiah. Inilah hidup... harus diperjuangkan.
Monday, June 28, 2010
karenA akU mencintaimU
aku bahagia
aku bersyukur dengan apapun yang kualami denganmu
ketika kau luapkan amarahmu karena kesalahan kecilku
ketika kau acuhkan diriku karena khilafku
dan ketika kau hukum tanpa aku tau kenapa
aku tetap bahagia... karena aku mencintaimu
aku bahagia
aku bersyukur
ketika kau berlalu tanpa berpaling
ketika kau katakan cukup sampai disini
ketika kau tak memberi sedikitpun harapan
ketika aku hanya mampu terisak menatapmu
aku bahagia... karena aku mencintaimu
aku bahagia denganmu
seperti apapun dirimu di mata mereka
aku bahagia bersamamu
seperti apapun dirimu kenyatannya
aku bahagia denganmu
aku bersyukur
karena aku mencintaimu
tuk dirimu yang tak kunjung henti kucinta...
aku bersyukur dengan apapun yang kualami denganmu
ketika kau luapkan amarahmu karena kesalahan kecilku
ketika kau acuhkan diriku karena khilafku
dan ketika kau hukum tanpa aku tau kenapa
aku tetap bahagia... karena aku mencintaimu
aku bahagia
aku bersyukur
ketika kau berlalu tanpa berpaling
ketika kau katakan cukup sampai disini
ketika kau tak memberi sedikitpun harapan
ketika aku hanya mampu terisak menatapmu
aku bahagia... karena aku mencintaimu
aku bahagia denganmu
seperti apapun dirimu di mata mereka
aku bahagia bersamamu
seperti apapun dirimu kenyatannya
aku bahagia denganmu
aku bersyukur
karena aku mencintaimu
tuk dirimu yang tak kunjung henti kucinta...
Friday, March 12, 2010
padA tiaP LangkahmU
pada tiap langkahmu
menjejak bumi membelah malam
demi rezeki yang (terus) kau cari
aku mengingatmu
pada tiap helaku
menarik nafas memenuhi dada
beriring doa keselematan untukmu
esok... ingin kuliat-mu lagi
pada tiap harapanku
bersemayam bersama doaku
dalam bisik nan halus
Tuhan, kembalikan dia
berhasil dan sehat
untukku
menjejak bumi membelah malam
demi rezeki yang (terus) kau cari
aku mengingatmu
pada tiap helaku
menarik nafas memenuhi dada
beriring doa keselematan untukmu
esok... ingin kuliat-mu lagi
pada tiap harapanku
bersemayam bersama doaku
dalam bisik nan halus
Tuhan, kembalikan dia
berhasil dan sehat
untukku
Tuesday, February 23, 2010
rindU (laGi)
aku rindu
tapi ta'kan pernah terucap
aku tak pernah punya nyali untuk mengatakan rasa itu
aku hanya merasakannya.
dari detik ke detik
dari helaan nafas ke helaan nafas berikutnya
perasaan itu ada
dan aku tak akan menghapusnya
akan kunikmati rindu ini
hingga yang Maha mengizinkan aku menuntaskan rasa ini
tapi ta'kan pernah terucap
aku tak pernah punya nyali untuk mengatakan rasa itu
aku hanya merasakannya.
dari detik ke detik
dari helaan nafas ke helaan nafas berikutnya
perasaan itu ada
dan aku tak akan menghapusnya
akan kunikmati rindu ini
hingga yang Maha mengizinkan aku menuntaskan rasa ini
Thursday, January 14, 2010
doaku
semoga hari itu tidak ada
semoga hari itu tidak ada
semoga hari itu tidak ada
semoga hari itu tidak ada
doaku....
semoga hari itu tidak ada
semoga hari itu tidak ada
semoga hari itu tidak ada
doaku....
Friday, December 18, 2009
menanTi cintA
haruskah aku berdiri di tiap simpang jalan
menunggu dirimu di situ?
harapan...
antarkan dia kepadaku
menunggu dirimu di situ?
harapan...
antarkan dia kepadaku
Friday, December 04, 2009
rindU
“Rindu……
Tuntunlah langkahnya untuk menemukan diriku yang berdiri mematung di tepi penantian!”
Mengerjapkan mataku…, membiarkan airnya merembes di pipi yang kian cekung. Bisik hatiku tadi, selalu mampu membuatku menangis, oh bukan menangis, tapi bisik itu selalu mampu menciptakan aliran anak sungai di bukit pipiku walaupun tanpa gemercik. Yach… airnya mengalir perlahan. Menuruni bukit2 pipiku.
(ketika rindu)
Tuntunlah langkahnya untuk menemukan diriku yang berdiri mematung di tepi penantian!”
Mengerjapkan mataku…, membiarkan airnya merembes di pipi yang kian cekung. Bisik hatiku tadi, selalu mampu membuatku menangis, oh bukan menangis, tapi bisik itu selalu mampu menciptakan aliran anak sungai di bukit pipiku walaupun tanpa gemercik. Yach… airnya mengalir perlahan. Menuruni bukit2 pipiku.
(ketika rindu)
Tuesday, October 20, 2009
dirimu adalah kenangan
dirimu adalah kenangan yang ta'kan kubiarkan pudar
dirimu adalah kenangan yang senantiasa hidup dalam jiwaku
ketika jarak dan waktu tak berpihak padaku
ketika semua nampak semu dan menyakitkan
kenangan akan dirimu menjadi semangat
dirimu adalah kenangan yang senantiasa hidup dalam jiwaku
ketika jarak dan waktu tak berpihak padaku
ketika semua nampak semu dan menyakitkan
kenangan akan dirimu menjadi semangat
Wednesday, July 15, 2009
kaU bertahaN
kau merasa sendiri
kau merasa ditinggal
lalu kau bertahan
atas rasa sakit dan kecewa yang mendera
namun tak urung matamu basah jua
kau merasa direnggut
kau merasa tak adil
tapi tiada protes
membiarkan semua terjadi
menanti waktu yang menjelaskan
memberi jawab atas tanyamu yang berkecamuk
kau sabar
kau berharap semua kan berlalu
kembali ke sedia kala
ketika bunga berbunga-bunga
kau bertahan
dalam sakitmu merenda harap
dalam perihmu membisikkan doa
Tuhan, kembalikanlah semua padaku
bisikmu...
kau merasa ditinggal
lalu kau bertahan
atas rasa sakit dan kecewa yang mendera
namun tak urung matamu basah jua
kau merasa direnggut
kau merasa tak adil
tapi tiada protes
membiarkan semua terjadi
menanti waktu yang menjelaskan
memberi jawab atas tanyamu yang berkecamuk
kau sabar
kau berharap semua kan berlalu
kembali ke sedia kala
ketika bunga berbunga-bunga
kau bertahan
dalam sakitmu merenda harap
dalam perihmu membisikkan doa
Tuhan, kembalikanlah semua padaku
bisikmu...
Subscribe to:
Posts (Atom)
TENTANG ETIKA
Aku baru saja selesai sholat Magrib ketika ponselku berdering. Demi melihat nama yang tertera di layar, segera kurapikan mukenah lalu merai...
-
Sebenarnya aku ingin tegar laksana karang yang tak goyah meski di terpa ombak setiap detik, namun kembali niatku itu runtuh hari ini, sore t...
-
senin 2 Juli Pukul 8 tepat aku di simpul. Duduk di tempat biasa Nash duduk. Melakoni aktivitas yang sabtu kemarin masih dia lakoni. Hari per...