Wednesday, May 16, 2007

ayahkU seoranG petanI


ayahku seorang petani
ketika usai sujud subuh, sarapan ala kadarnya hasil bikinan ibu di lahapnya.
kemudian dia berangkat ke sawah.
membajak, menanam, menyiangi.
ayahku yang petani itu menghabiskan waktunya disawah
dia bangun lebih pagi dari kokok ayam
dia berangkat lebih cepat dari pada terbitnya matahari
bergumul dengan lumpur bermandikan terik matahari

ayahku yang petani itu
suka ria hatinya menyambut musim penghujan seperti sekarang
karena hujan menandakan musim tanam tiba
dan saat itulah
dia tanam semua yang dia punya
dengan harapan, tanamannya dapat tumbuh subur, berbuah dengan lebat
dia berharap dapat memanen apa yang di tanamnya
untuk aku
untuk adikku
untuk kakakku
untuk ibuku

ayahku seorang petani
wangi jerami kering yang terbakar mengingatkan aku akan dirinya
aroma lumpur sawah saat musim tanam mengingatkan aku padanya
terik matahari yang garang ingatkan aku akan kulit legamnya
ayahku yang petani itu
kadang merenung di dangau ketika melepas lelah
mungkin memikirkan harga pupuk yang menjulang
atau harga gabah yang terus merosot
ayahku yang petani itu hanya bisa mengisap rokok lintingannya
di dangau ketika melepas lelah,