

melepas pandang nun jauh, mencari bintang di balik kabut. bolehlah ia menjadi kisah, yang kututurkan lewat kataku. "a light of miracle"
Entah telah berapa lama niat itu ada. Setiap kali melintas rasanya ingin berhenti sejenak, menjejak kaki dan menebar senyum. Merasakan belai angin dan dan sapaan matahari. Menikmati aroma hijau yang ada di sekitarnya. Aku telah terpesona dengan bentangan bangunan rel kereta api yang membelah persawahan di Kabupaten Barru itu. Telah ada poto beberapa teman yang mereka upload di medsos. Membuatku berandai-andai kala melihat poto2 mereka. Betapa tidak, aku memang pernah melakukan hal yang sama, berpoto di rel kereta. Tapi untuk itu aku mesti ke Pulau Jawa dulu. Sesuatu....
Seiring perjalanan waktu. (mungkin) Melalui debat yang panjang diantara para petinggi2 di Sulsel... akhirnya rel kereta pun mulai dibangun di beberapa kabupaten. Kendati tidak melewati Kabupaten Soppeng maupun Bone (dua kota tempat tinggal-ku) tapi aku tetap merasa hepi. Sebentar lagi. Ya sebentar lagi alat transportsi yang dulu hanya merupakan dongeng bagiku akan ada di sini. Di Sulawesi Selatan. Dan In Sha Allah bisa aku gunakan untuk melihat tempat2 lain di Pulau Sulawesi yang hingga saat ini belum pernah aku kunjungi.
Melihat bentangan rel itu.... berderet nama kota mulaui tersusun rapi di kepalaku. Rencana perjalanan mulai tersusun secara otomatis. Ahh rencana perjalanan selalu mampu menggoda otakku. Sesuatu yang sangat seksi bagiku. Lebih2 perjalanan-nya. Sesuatu yang mampu membuat aku berubah pikiran dengan sangat cepat. Berdiri di rel kereta. Membayangkan kereta melintas, berpoto, tersenyum dan berdoa. Semoga diberi umur panjang agar dapat menikmati perjalanan dengan kereta. Semoga diberi rezeki agar dapat dengan mudah mewujudkan niat perjalanan dengan kereta
Ayah. Agustus tiba. Bulan merah putih yang penuh kenangan bagiku. Kenangan tentang-mu. Terkenang akan kesabaranmu membenahi rumah, halaman dan pagar kita.
Agustus yang cenderung panas. Hangat matahari sedari pagi telah terasa. Dan semilir angin yang juga kering. Namun menebarkan aroma yang menggoda hidungku. Yah Aroma agustus ini yang (mungkin) hanya tercium oleh hidungku. Aroma yang membangkitkan kenanganku akan dirimu, Ayah.
Aku rindu mengecat pagar. memasang umbul2, membakar sampah. Rindu melakukannya bersamamu. titip rindu, titip doa
Udara gerah tanpa titik air. Cuaca panas menghanguskan semua. Daun tak lagi hijau. Ia telah kerontang hampir luruh dari dahan. Bahkan sebagian telah luruh tak berdaya, dimainkan angin, melayang hingga ke tanah.
Bumi yang tak lagi hijau. Permadani nan semerbak telah berubah menjadi coklat. Pucat dan tak lagi bernafas. Tak ada lagi rumput hijau yang tebal dan empuk di duduki. Tak ada permadani lapang tempatmu berlari, atau mungkin berbaring, berguling seiring tawamu. Saat ini musim kering, semuanya kering.
Aku melewati musim kering.Diawali kilat yang menyambar-nyambar bersama petir nan garang, seakan mengancam jiwaku. Aku takut, lalu mencari perlindungan yang mungkin aman, yang mungkin bisa selamatkan ku dari amuk kilat dan petir. Aku berlari-lari ketakutan ketika tiba-tiba angin pun berlalu dengan dengan sangat cepat, seakan ingin menerbangkan pepohonan. Tapi pohon itu tak rela berlalu. Dahan dan daunnya pun menolak anggun ajakan sang angin. Meliuk merunduk, apalagi yang dapat dilakukannya selain itu?
Aku masih berlari. Kilat, petir, angin, oh aku sangat ketakutan. Langit yang tadinya terang benderang, mendadak gelap gulita. Lalu meneteslah air dari langit. Siapa pula yang menangis di atas sana? Apakah hatiku yang bersedih bersemayam di langit? Dan saat ini sedang meng-ekspresi-kan kesedihannya? Langit menangis sejadi-jadinya. Aku yang masih berlari menjadi kuyup sekujur tubuhku. Aku berhenti berlari. Aku mencari pemilik air mata itu di langit. Kemana hatiku yang sedang menangis? Lelah dan perih mataku menentang hujan yang tak juga henti.
Aku di musim semi. Setelah tangisan langit itu berlalu, perlahan ada yang berubah. Kilat dan petir berlalu pergi. Langit kembali biru, ada senyum ceria surya di sana. Dari mana pula datangnya burung-burung yang tak henti berkicau. Iya membawakan lagu baru dalam kicaunya. Tentang sebuah taman yang penuh bunga diterbangi ribuan kupu-kupu.
Aku kah pemilik taman? Mengapa aku telah berdiri di taman ini? Di atas hamparan permadani yang telah hijau. Di bawah pohon-pohon yang telah mendapatkan daunnya kembali.
Ahh aku tak boleh melewatkan waktu. Aku harusnya menikmati permadani ini, memetik bunga yang semerbak, berkejaran dengan kupu-kupu. Aku harus menikmati surga ini. Sebelum musim berikutnya merenggutnya dariku.
Aku kembali di musim keringDalam perjalananku kutemukan sebuah lembah sunyi yang telah kering, merindukan titik air mata langit. Lelah. Aku tak mampu melanjutkan langkahku yang seret. Maka kusandarkan tubuh ringkihku pada pohon yang telah sangat haus pula. Aku duduk lunglai pada rumput-rumput yang meregang nyawa. Ya baiklah, kita bersama-sama menantikan musim itu, ketika benih kehidupan dibagikan oleh malaikat Tuhan.
Kita disini saja, bersama menanti berlalu-nya musim nan kering Kita disini saja, bersama menanti datangnya musim yang semi. 260214 @syauntukmu yang berjuang,
yang berperang dengan kerasnya hidup,
banyak doa untukmu
untukmu yang jauh
yang memilih berjuang di tempat yang jauh
lebih banyak doa untukmu
untukmu yang bersabar
yang tak bersuara menjalani perjuangan-mu
selalu ada doa untukmu
Tidaklah mudah untuk pergi bersama saat ini. Karena masing-masing kita punya kesibukan dan jadwal tertentu. Waktu luang memang pasti ada, tapi jarang sekali kita punya waktu luang secara bersamaan. Ternyata kenyataan itu dapat kami patahkan. Semua berawal dari keinginan keluar kota bersama. Berlibur bersama.
Ada beberapa paket liburan yang menggiurkan. Tapi faktor biaya dan waktu pelaksanaan menjadi pertimbangan kami. Apalagi kami terikat kerja di kantor yang berbeda. Tapi kalo memang sudah niat, maka segala yang selama ini jadi penghalang akan bisa dilalui.
Awalnya, bulan Januari lalu, kami kumpul di rumah-ku. Hari Minggu itu Andev, Abuthy, dan A.Ippank main ke rumah. Sambil makan-makan, kami merencanakan sebuah perjalanan. Sebuah tawaran tiket murah dari salah satu maskapai penerbangan menjadi pemicu semangat kami.
Sebenarnya rencana itu sempat surut. Waktu penawaran tiket sudah berlalu, dan kami belum juga memesan tiket. Tapi entah kenapa, menjelang Magrib, Abuthy iseng-iseng menelepon maskapai tersebut, dan tersambung. Jadilah kami pesan tiket serba buru-buru. Kota tujuan spontan saja sebut Surabaya, dan tanggal keberangkatan 5 Maret 2013. Semua itu diputuskan dalam hitungan detik, terutama tanggal keberangkatan. Saat itu kami semua belum tau apa jadwal kami kerja pada bulan Maret. Ya sudahlah, semua sudah dimulai. Usai sholat magrib, kami membayar tiket yang udah dipesan.
Dari Surabaya mau kemana? Malam itu semua blank. Tidak ada yang punya keputusan mau kemana. Hari –hari berikutnya kami mulai hunting tempat wisata, alat dan biaya transport lokal serta hotel. Google sangat membantu kami untuk mendapatkan berbagai informasi kota. Akhirnya kami memutuskan Surabaya termasuk kota yang akan kami kunjungi, jadi di Surabaya kami tidak sekedar lewat. Tapi kami akan nginap. Walau Cuma semalam tapi cukup mengesankan. Kami sempat berkunjung ke Taman Ikan Buaya, Tunjungan Plaza, Taman Aspari, Area Sparkling, Jembatan Suramadu, Tugu Pahlawan, Armada Kawasan Timur, House Of Sampoerna dan terakhir Stasiun Gubeng.
Dari Surabaya kami kemana? Itu menjadi pertanyaan berikutnya. Bali atau Yogya? Mulai lagi hunting informasi tentang dua kota tersebut. Akhirnya karena pertimbangan budget, kami memilih Yogya. Kami menuju Yogya dengan menggunakan Kereta api Sancaka Sore dari Stasiun Gubeng. Ada beberapa tempat wisata yang masuk dalam list untuk kami kunjungi. Candi adalah obyek yang harus dikunjungi, menyusul keraton, pantai parangtritis, dan Malioboro, (serta ada beberapa kuliner yang harus kami nikmati) Nah untuk yang terakhir ini, kami sengaja mencari penginapan di Malioboro. Jadi setiap saat bisa menikmati suasana Malioboro. Tiga malam di Yogya benar2 berkesan.,/p>
Dari Yogya kemana lagi? Wah ini yang liburan benar-benar mau liburan, hehehhe. Sekali jalan ingin ke tiga kota. Akhirnya Jakarta menjadi pilihan kami, dengan pertimbangan kami pulang ke Makassar lewat Cengkareng. Petulangan pun dilanjutkan ke Jakarta. Dua hari di Jakarta kami manfaatkan untuk ke Ancol, Monas, Bundaran HI, dan ke beberapa mall. Capek namun puas.Seminggu liburan menguras tenaga kami ( dan tentunya juga menguras kantong, hahahhah).
Kapan lagi yach...?Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya yang telah mengizinkan aku bangun, bernafas dan beraktivitas sebagaimana biasa, pada hari ini. Pukul delapan lewat sekian menit, aku meninggalkan rumah. Sekitar 10 menit di jalan aku nikmati. Sembari membawa motor, aku melihat sekeliling, melihat langit, dan tak henti mengucap syukur pada-Nya.
Tak ada yang istimewa hari ini. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Dalam ketenangan yang semestinya. Di kantor, aku menikmati lagu2 di ruangan saja. Tak ada pekerjaan yang berat hari ini. Kubiarkan waktu berlalu sambil membuka beberapa situs favoritku. Sambil donlot2 lagu lama yang sebagian besar telah terhapus dari koleksiku. Bahagia itu sederhana, ketika kau merindukan satu lagu, dan dalam satu kali klik kau dapatkan lagu itu kemudian bisa mendengarkannya.
Tak henti mengucap syukur hari ini. Empat belas februari, ketika sebagian dari kita merayakannya sebagai hari kasih sayang, maka pada hari ini aku punya makna lain pada hari ini. Sebagian besar dari kita mengatakan hari ini tidak spesial, sama seperti hari lain, tapi bagiku hari ini spesial, bukan karena predikatnya sebagai hari kasih sayang, tapi karena hari ini hari jadi-ku.
Terima kasih Tuhan. Tak terasa setahun berlalu. Dan berharap masih ada tahun2 berikutnya untuk aku jalani. Dan berharap tahun ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan berharap ku pun lebih baik dari sebelumnya.
Selamat ulang tahun asya Membaca tulisan teman2 kadang buatku ketawa, senyum2 atau manggut2. Ya ada beberapa perbedaan. Adalah yang berubah dari kehidupan mereka. Yang dulu masih kuliah, skarang udah kerja. Yang dulu masih sendiri sekarang sudah berdua ataupun bertiga. Ya betapa waktu membawa perubahan dalam kehidupan kita. Untuk mereka yang berubah ke arah yang lebih baik, membutkau membisikkan “Alhamdulillah” sungguh aku bersyukur. Sedangkan untuk teman2 yang tulisannya masih postingan terakhir yang diposting 2 atau 3 tahun lalu, membuatku bertanya-tanya akan kabar mereka sekarang, dan ada doa di dalam hati semoga mereka baik2 saja.
Aku pun sebenarnya lama tidak menulis di blog. Ada banyak tulisan yang tidak sempat aku posting. Rasa malas kadang benar2 menjajahku, kemudian, kesibukan2 yang lain juga banyak menyita waktu. Tapi keinginan untuk kembali eksis di blog selalu ada, walaupun blog sepertinya banyak ditinggalkan, teman2 lebih banyak beralih ke situs jejaring sosial. Sebenarnya itu tidak masalah, dimanapun kita eksis, yang penting karya tetap ada.
Blogwalking siang ini....membuatku memiliki sebuah pemikiran, yah sebuah pemikiran. Untuk mereka yang berani mengambil sebuah keputusan akan menemukan perubahan dalam hidupnya. Ada beberapa tulisan teman yang aku baca, yang mengisahkan jalan hidup mereka yang awalnya tidak pernah kuduga mereka akan memilih hal seperti itu, tapi kenyataannya mereka telah mengambil sebuah keputusan atau katakanlah pilihan, dan hidup mereka berubah, berbeda dengan yang dulu.
Aku tersenyum. Dan berharap nanti akan tiba juga masa bagiku untuk mengambil sebuah keputusan yang Insya Allah akan merubah kehidupanku ke arah yang lebih baik. Aminnnnn...!
Aku baru saja selesai sholat Magrib ketika ponselku berdering. Demi melihat nama yang tertera di layar, segera kurapikan mukenah lalu merai...