Tuesday, April 09, 2019

Surat Kebebasan


Ketika rasa itu tak lagi sama, maka kau akan berusaha membebaskan dirimu darinya.

Cuaca akhir-akhir ini begitu terik. Angin yang membawa debu sesekali berhembus. Aromanya yang panas terkadang menusuk hidung. Suasana siang yang gerah seperti menggambarkan hatiku. Telah beberapa bulan terakhir ini damai dan sejuk yang dulu selalu merajai hatiku, sirna. Menguap bersama angin kering.

Faiz salah satu teman kampus yang berhasil memenangkan hatiku dari sekian teman lainnya. Dia pula yang berani bertemu orang tuaku menyampaikan hajatnya untuk hidup bersama. Serta dia yang mendapat restu dari orang tuaku, mendapat kepercayaan untuk memindahkan tanggung jawab ayahku kepadanya. Singkat cerita kami menikah saat masih sama-sama kuliah. Mengingat kami sudah di tingkat akhir waktu itu, dan Faiz sudah bekerja juga di sebuah perusahaan swasta membuat kami mantap untuk menikah di usia muda.

Hidup begitu indah. Dunia ini penuh warna yang selalu mampu membuatku tersenyum. Membuat aku tidak pernah berpikir akan akhir dari kebersamaan kami.
Lepas kuliah, aku diterima bekerja. Kehidupan kami semakin bahagia. Hampir tidak ada masalah ekonomi mengingat kami berdua masing-masing punya penghasilan. Dan hal yang paling membahagiakan adalah semua gaji Faiz masuk ke rekening ku. Dia hanya mengambil biaya bbm dan rokok, itupun aku yang transfer ulang ke rekeningnya. Sungguh Faiz adalah suami yang sangat manis.

Sebagai istri, tentunya aku pun tak mau mengecewakan Faiz. Sedapat mungkin segala tugas dan kewajiban aku penuhi sebelum meninggalkan rumah. Dan aku selalu berusaha tiba lebih awal di rumah pada saat pulang kerja. Sesuai pesan ibu, seorang istri selayaknya menunggu suami pulang kerja dengan sumringah. Suami tidak boleh menemukan rumah dalam keadaan kosong. Petuah ibu ini berusaha aku jalankan sebaik mungkin. Sampai dua tahun pernikahan kami, aku selalu bisa menyambut Faiz pulang kerja dengan penuh senyum dan tentunya dalam kondisi yang rapi dan harum. Bukan pakai daster.

Aku berani mengatakan pernikahan kami bahagia. Kehidupan kami bahagia. Walaupun sama-sama sibuk di pekerjaan masing-masing, namun kami tidak tahan untuk tidak saling memberi kabar dalam delapan jam bekerja. Aku benar-benar bersyukur dengan kehidupanku.
Tapi kemudian, kisah bahagia kami mulai terusik. 

Tak terasa air mataku meleleh. Hari ini terasa sepi sekali. Hari ke delapan tanpa tegur sapa. Kami saling diam pasca kejadian Jumat sore. Kala itu Faiz pamit hendak keluar kota. Memang terkadang kantornya mengadakan meeting di luar kota, tapi biasanya Faiz mengajakku turut serta. Ini untuk pertama kalinya aku tidak diajak. 

Sebagai istri yang baik aku berusaha sabar dan mengerti. Boleh jadi ini pertemuan yang sangat penting sehingga tidak diperbolehkan membawa keluarga. Aku siapkan pakaian sebagaimana biasanya. Menyetrika sampai licin dan melipatnya pehun cinta. Aku tidak mau pakaian Faiz kusut sedikit pun. 

Saat sedang berbenah pakaian, Faiz sedang mandi. Ponselnya yang sementara di charge berdering sejak tadi. Dari kamar mandi kudengar dia berteriak meminta aku menjawab telepon. Aku langsung mengambil ponsel tersebut dan mendengar suara perempuan menanyakan Faiz. Dan spontan aku jawab lagi siap-siap, bentar lagi berangkat. Dia lalu mengucapkan terima kasih dan kami menyudahi percapakan. Tanpa rasa curiga aku letakkan ponsel dan kembali fokus ke tas pakaian Faiz. Mengecek segala keperluannya untuk dua hari di luar kota.
Ponsel Faiz berbunyi lagi. Nada pesan WA dan entah kenapa aku tergoda untuk untuk membukanya. Pesan dari Manda. Dan…..

Tubuhku serta merta bergetar dan kurasakan suhu tubuhku perlahan menurun menjadi lebih dingin. Mataku nanar menatap layar ponsel. Ada banyak ikon kiss, love dan kalimat-kalimat mesra yang berbalas. Dan terakhir ada nama hotel beserta nomor kamar di resort wisata pantai. Aku terhenyak. Mataku basah. Tanpa sengaja aku melempar ponsel itu, pas Faiz sedang keluar dari kamar mandi.
“Eh apa-apaan sih. Koq ponsel di lempar?” Dia memungut ponselnya. Lalu mendekat kepadaku. Kurasakan dia memelukku dari belakang dan aku menolak. Secara halus aku membebaskan diri dari pelukannya. Dan membuang diriku ke kasur. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa mengeluarkan satu katapun. Aku merasa sangat marah dan sakit hati.

Entah berapa jam aku menangis. Lampu-lampu di taman sudah menyala ketika aku berusaha membuka mataku yang terasa perih. Kamar remang-remang karena hanya lampu baca yang menyala di sudut kamar. Kulihat satu bayangan yang duduk tercenung di sofa depan jendela. Faiz…?
Ya, Faiz masih di kamar. Padahal tadi katanya sudah mau berangkat. Karena jam 8 malam sudah harus ikut meeting. Meeting? Meeting apaan? Kerjaan apa?
Aku mendadak muak melihatnya, dan tidak ingin menegurnya. Untuk pertama kali sejak mengenalnya aku merasakan benci kepadanya. Dia telah mengkhianati komitmen kami. Dan rasanya sangat sakit.

Aku berusaha bangkit. Kelamaan menangis membuatku merasa haus. Aku berjalan ke dapur. Membuka kulkas lalu mengambil sebotol air dan duduk di kursi. Baru aku sadar bahwa malam ini kami belum makan. Biarlah, aku tidak sedang tidak ingin menghidangkan makanan. Masa bodoh.
Faiz ikut ke dapur. Dia duduk di depanku. Aku menunduk sambil meremas-remas botol minuman. Aku sedang tidak mau berbicara dengannya, juga tidak mau melihatnya. Chat di WA tadi cukup menjelaskan siapa Manda dan apa hubungan mereka. Aku tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Suasana beku. Lagi-lagi aku menangis. Aku melangkah gontai ke kamar dan menguncinya.
Pukul 9 pagi aku terjaga. Aku berusaha bangkit. Mataku kini hanya serupa garis. Aku tidak dapat lagi melihat dengan jelas. Aku melihat beberapa panggilan di ponsel. Dari dari ibu dan dari Faiz. Tiba-tiba aku ingin muntah. 

Setelah mandi aku merasa agak lebih baik. Aku berjalan ke dapur, perutku kosong dari semalam. Kutemui Fais terpekur di meja makan dengan nasi goreng dua porsi di depannya.
“Sudah bangun, Sayang. Ayo kita makan, kamu pasti lapar.” Dia bangkit menarik tanganku mendudukkanku di kursi. “Makan yah, nanti kamu sakit! Aku menghindari tatapannya. Aku dorong nasi goreng itu menjauh. Aku benar-benar tidak selera. Tidak selera memakan masakanannya dan tidak selera bicara dengannya. 

Faiz pasrah. Dia melepaskan gengamannya di lenganku. “Maafkan aku, Mia”, suaranya lirih. Kemudian dia tergugu. Kulihat badannya terguncang. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Seperti apapun dia saat ini aku tidak peduli.

Aku bangkit mendekat ke kulkas mengambil sebotol air dan melangkah ke belakang. Aku duduk di balai-balai. Tempat ini biasanya selalu jadi tempat kami menghabiskan waktu kala di rumah. Hobi Faiz pada buku membuatnya betah lama-lama membaca di balai-balai dan biasanya aku menemani sambil bermanja padanya. Air mataku meleleh lagi.

Seminggu berlalu. Rumah kami seperti kuburan. Sepi dan beku. Memang Faiz tidak jadi berangkat waktu itu, tapi jika mengingat deretan kalimat di WA yang sempat aku baca hatiku kembali berdarah-darah. Aku merasa sakit. 

Seminggu ini aku tetap pulang lebih cepat. Tapi aku tidak pernah lagi menyambutnya di pintu. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kamar. Mencoba tidur dan biasanya benar-benar tidur hingga tidak menyadari Faiz sudah pulang.

Kehidupan kami menjadi sangat monoton. Aku tidak pernah lagi mengurusnya. Malah terbalik dia yang mengurusku. Dia menyiapkan pakaianku walau tidak sekalipun aku memakai pakaian yang telah dia siapkan. Dia siapkan sarapan walau tidak sekalipun aku menyentuhnya. Maafkan aku, Faiz tapi aku masih marah padamu.
Aku sedang menyiapkan keberanian untuk membebaskan diri darimu.
Aku ingin pergi darimu, Faiz. Karena rasa yang dulu ada kini tak lagi sama. Karena kepercayaan yang dulu ada kini tak lagi sama.
Maafkan aku, cintaku. Saat ini aku sedang mengurus surat kebebasan. Aku ingin bebas darimu, aku ingin membebaskan hatiku dari rasa sakit yang luar biasa.

#fiction

Sumber foto : https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fassets-a1.kompasiana.com%2Fitems%2Falbum%2F2018%2F02%2F07%2Fimages-5a7a7525dcad5b481018e702.png&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.kompasiana.com%2Fevrisyaglorys%2F5a7a75ebcaf7db410b5be4c2%2Fpernikahan-tak-selevel-awal-dari-prahara-rumah-tangga&docid=RlvJnkm8msVdvM&tbnid=V4zoP-ixLIx6jM%3A&vet=10ahUKEwjqg_DO_sHhAhWbd94KHe8PBFUQMwhBKAIwAg..i&w=543&h=271&safe=strict&bih=607&biw=1280&q=prahara%20rumah%20tangga&ved=0ahUKEwjqg_DO_sHhAhWbd94KHe8PBFUQMwhBKAIwAg&iact=mrc&uact=8

No comments: