Thursday, July 04, 2019

Lelaki yang Ingin Kukenalkan Padamu



Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselku berdering berkali-kali. Sambil merapikan rambut yang masih setengah basah, kutengok sekilas layar hp untuk melihat siapa gerangan yang menelpon. Paling malas menjawab telepon ketika baru saja tiba di rumah. Rasanya ketika tiba di rumah, aku hanya mau beristirahat. Kalaupun menerima atau melakukan panggilan telepon, hanya untuk fun. Bukan untuk membahas pekerjaan atau hal-hal yang berat.

Hmm sebuah nomor baru. Jadi teleponnya tidak perlu dijawab. Kubiarkan ponsel itu bernyanyi sendiri. Aku kemudian melangkah ke halaman belakang. Ada beberapa tanaman yang butuh disiram setelah kuabaikan 2 hari. Hmm quality time. Badan segar sehabis mandi lalu menikmati bunga-bunga di halaman belakang. Ini salah satu saat yang menyenangkan ketika berada di rumah.

Setiap kali pulang kerja, praktis aku di rumah saja. Tidak ada acara tambahan seperti dulu. Nongkrong di kafe tidak lagi, nonton, apalagi. Ya karena tidak ada teman. Amel yang dulu jadi partner di kantor maupun di luar sekarang ini dipindahtugaskan di Palu pasca gempat dan tsunami disana. Dia mendapat tugas mulia untuk membantu anak-anak menghapus trauma atas bencana tersebut.

Sore ini aku di temani Ed Shareen, dia  lagi di kamar. Berkali-kali dia mengalunkan lagunya.
Loving can hurt,
Loving Can hurt sometime
But It’s the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hadr sometimes
It is the only thing makes us fell alive

Aku bersenandung kecil mengikutinya, sambil membenarkan dalam hati. Sekertika aku menggigit bibirku. Memejamkan mata demi mengingat sebuah wajah yang mampu meruntuhkan tanggul mataku. Tapi tidak kali ini. No. cause life must go on. Aku menepiskan remah-remah kenangan dari pikiranku.

Aku meraih ponsel dari atas meja. Mungkin ada hal menarik di status sosmed yang bisa bikin aku ketawa. Biasanya status-status nyinyir bikin aku terbahak. Lucu aja rasanya melihat masih ada orang yang nyinyir atas apa yang dilakukan orang lain. Hmm semoga apa yang kulakukan tidak termasuk nyinyir yah. Aku cuma membaca status-status lalu menanggapinya dengan senyum atau bahkan meringis.

Sebuah pesan WA menarik perhatianku. Ternyata dari nomor yang berkali-kali memanggil tadi.
Sa, besok aku di kotamu, lho. Aku ada jadwal TOT 2 hari di Hotel 888. Jadwalku jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Selebihnya free. Jam 5 kita ketemu di kafe, ya. Ok, aku tunggu besok. Mas Pit.
Waow…Mas Pit mau datang. Sip deh… aku punya teman nonkrong. Hahaha menyesal tidak mengangkat telepon tadi. Salah Mas Pit juga, kenapa suka ganti-ganti nomor.

Pietra Hadijaya. Aku lebih suka memanggilnya Mas Pit. Sementara teman-teman memanggilnya Pak Pit. Dia adalah atasan kami. Tapi di luar jam kantor Mas Pit adalah teman ngobrol yang sangat asyik. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kafe, meminta bergelas-gelas kopi sambil membahas banyak hal.
Selain itu Mas Pit adalah teman jalan yang sangat menenangkan. Kamera tak pernah tertinggal dan dia sangat gemar memotret. Rasanya kloplah dengaku yang sangat suka di poto. Cocok.
*****

Aku bergegas membereskan pekerjaan. Dari kantor langsung menuju Hotel Delapans. Waktu belum menunjukkan pukul 5. Aku memilih duduk di resto sembari menunggu Mas Pit selesai.
Tidak lama kemudian, Mas Pit muncul. Dari jauh aku sudah melihat rambutnya yang dikuncir, tapi masih juga awut-awutan. Kacamata tebalnya bertengger dihidung yang sama sekali tidak mancung.

“Hai, Kak Risa!’
“Halo, Mas.” Kami berjabat tangan erat. Lama sekali baru bisa bertemu. Beberapa mata mengawasi kami. Ya mungkin agak aneh bagi mereka ketika ada gadis yang asyik ngobrol dengan laki-laki beruban. Ya, rambut Mas Pit memang sebagian sudah ubanan. Mungkin karena beban pikiran yah.
“Gimana kabarnya?” Tanya Mas Pit sembari menarik kursi di depanku
“Well, seperti yang Mas lihat, aku sehat dan baik-baik saja. Sangat baik.” Jawabku.
“Kerjaan gimana?”
“Aman, aku masih di gaji tiap bulan. Tenang, Mas, perekonomianku masih stabil.”
Mas Pit terkekeh mendengar jawabanku. Dia melambai ke seorang pramusaji, memesan minuman lalu kami melanjutkan obrolan.

“Oh yah, kok Ka Risa datang sendiri? Kenapa tidak mengajak teman?”
“Lho, kan Risa emang sendiri, Mas. Amel pindah ke Palu.”
“Oh, yah? Terus, teman yang tempo hari Risa ceritakan sama Mas, katanya mau dikenalkan kalo Mas main ke sini. Mana dia?” Mas Pit mengaduk-aduk kopi di depanku. Suasana hening. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk bercerita.

“Mmm, Mas, sebelum pulang, kita main ke warung mie ayam yang dulu yah. Mas Samin tempo hari menanyakan kabar Mas.” Aku mencoba mengubah arah pembicaraan. Warung mie ayam yang kumaksud adalah yang di tepi kali. Kami beberapa kali makan di sana dan Mas Pit akrab dengan penjualnya. Mereka sering terlibat cerita yang menarik, mungkin karena mereka berasal dari daerah yang sama, Bantul.

Kami mengobrol hingga pukul 21 malam. Sampai akhirnya aku harus pamit pulang mengingat besok mesti masuk kerja. Sedangkan Mas Pit, pun perlu beristirahat.

Tiba di rumah, aku menemui Ed Shareen. Tiba-tiba aku ingin mendengar celotehnya lagi tentag cinta yang kadang menyakitkan.
Aku bersandar di sofa. Memeluk bantal yang empuk demi mencari suasana nyaman. Tapi malah dalam hatiku terasa gundah. Pertanyaan Mas Pit tadi, tentang teman yang ingin kukenalkan padanya mau tidak mau membuatku teringat Dafa.

Kukerjapkan mataku yang menghangat. Terkadang saat mengingat Dafa, aku menjadi rapuh. Dan jika berada di rumah, kubiarkan mataku berair. Menangis juga cukup baik untuk melepaskan gundah. Aku sampai terisak-isak.

Dafa, dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Dan aku baru menyadarinya seminggu setelah dia tidak berkabar padaku. Harusnya sore itu kami makan bersama sesuai janji kami minggu lalu. Aku lalu mengingatkannya via  WA namun pesan itu tidak terkirim.

Ketika jam kantor sudah usai, aku kembali mengecek WA dan masih saja pesan itu belum terkirim. Aku coba menelpon, nomornya tidak aktif. Lalu aku memilih ke warung tempat kami janjian. Pikirku mungkin Dafa sudah menungguku disana. Ternyata Dafa tidak ada. Hingga pukul 20, ketika akhirnya aku menyerah, melangkah pulang ke rumah dengan diliputi ribuan pertanyaan.

Seminggu, sebulan, dan kini 8 bulan. Sama sekali tidak pernah ada kabar dari Dafa. Dia hilang begitu saja. Sebulan awal aku depresi. Sedih yang mendalam namun tidak mampu melampiaskannya. Saat itu hatiku menangis, tapi mataku tidak. Aku lalu mencari jalan lain untuk menenangkan hatiku. Mempelajari doa-doa penenang hati. Beberapa bulan kemudian aku baru dapat melihat hikmah dari perginya Dafa. Aku menghafal beberapa doa dan rutin membacanya hingga hari ini. hingga aku menuliskan kalimat-kalimat ini.

Dengan perginya Dafa, aku tidak punya seseorang untuk kukenalkan pada Mas Pit.

No comments: