Wednesday, September 11, 2019

Sore di Lembah Cinta

Aku menulis kisah ini dengan tujuan menjadi pengingat bagi diriku, ketika bermain ke hutan untuk lebih berhati-hati dan tidak memisahkan diri dari orang banyak.

Minggu 8 September
Sore, lepas Ashar, waktu itu sekira pukul 16.00, aku bersama Andev menuju Lembah Cinta di Desa Mattabulu. Sebuah spot wisata di tengah hutan pinus itu selalu menggoda kami untuk berkunjung. Kami memang kerap menghabiskan waktu di sana, terlebih jika lagi waktu libur. Bahkan beberapa kali kami menginap di Mattabulu. Suasana sejuk dan tenang di sana mampu menahan kami, membuat kami enggan melangkah pulang.

Minggu sore kemarin, akhirnya kami memutuskan menempuh jalan kecil di antara gunung dan jurang menuju Lembah Cinta. Kami tidak butuh waktu yang lama. Jalanan tidak begitu ramai. Kami hanya berpapasan beberapa pengendara yang sepertinya telah pulang dari Lembah Cinta Mattabulu.
Dalam perjalanan, kami mengobrol tentang cerita KKN di Desa Penari yang lagi viral itu. Perjalanan untuk mencapai Lembah Cinta membuat kami membayangkan bahwa kondisi jalanan tidak jauh beda seperti yang digambarkan dalam cerita Desa Penari tersebut. Begitu juga letak Desa Mattabulu mungkin kurang lebih sama dengan Desa Penari, sebuah desa di hutan.

Pada sebuah belokan yang agak tajam, tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku sedikit bergidik ketika mengingat omongan orang bahwa saat bulu kuduk tiba-tiba meremang, maka berarti ada makhluk tak kasat mata di sekitar kita. Aku berusaha mengatasi perasaan takut yang mulai menjalar. Aku melanjutkan obrolan dengan tema yang lebih ringan. Tapi lagi-lagi bulu kudukku meremang. Dua kali aku rasakan dengan jelas tengkuk-ku menjadi lebih dingin dari sebelumnya. 

Setelah beberapa menit, akhirnya kami tiba di Lembah Cinta. Arhul, teman kami tiba lebih dahulu. Kami mendapati Arhul sedang menikmati tuak manis. Kami langsung bergabung, menikmati tuak manis di antara pohon pinus. Cuaca yang dingin menambah suasana lebih nyaman.
Usai meminum tuak, aku dan Andev lalu sepakat jalan-jalan untuk mengambil beberapa gambar. Kami tidak masuk di kawasan wisata, yang saat itu masih terbilang ramai. Masih ada pengunjung yang bermain flying fox, serta melakukan kegiatan wisata lainnya. 

Kami memilih menyusuri jalan selasar yang arahnya menjauh dari lokasi wisata. Aku lalu mengatakan perihal tengkuk-ku yang tiba-tiba terasa dingin diperjalan tadi. Saat yang sama aku kembali merasakan tengku-ku lebih dingin. Serasa ada yang berdesir di belakan kami. Ternyata Andev merasakan hal yang sama. Tapi kami berusaha mengatasi perasaan itu. Kami terus melangkah.
Akhirnya kami menemukan jalan beton diantara pohon pinus.Kami lalu sepakat untuk mengambil gambar di tempat itu. Berhubung kami cuma berdua dan awalnya tak ada yang mau menjadi potografer, akhirnya kami sepakat menggunakan tripod. Kami mengambil beberapa gambar poto dan video untuk keperluan medsos kami. Hanya untuk bersenang-senang. Kami lalu melupakan perasaan aneh tadi. Kami benar-benar larut mengambil gambar.

Kami bergantian saling protes setiap kali melihat hasil gambar, apakah itu video atau poto sehingga kami mengulang beberapa adegan dan pose berkali-kali. Padahal adegan kami cuma berlari. Pose kami pun tidak macam-macam. Kalau tidak duduk ya berdiri. 

Selagi asyik melakukan kegiatan kami, beberapa petani pekebun lewat disamping kami. Mereka menggunakan motor sambil membawa hasil kebun. Mereka menatap kami dengan heran tapi kemudian menyapa kami dengan ramah. Aku lalu menyampaikan kepada mereka bahwa kami sedang mengambil beberapa gambar.

Tanpa kami sadari hari semakin sore. Memang kami tidak lagi pernah melihat jam. Kami fokus untuk melihat setiap poto atau video yang kami ambil. Lagipula matahari masih nampak terang, yang kami lihat di antara pohon-pohon pinus. 

Selagi kami asyik, ternyata disaat yang sama, teman kami telah kebingungan mencari kami. Pengunjung di lokasi wisata semakin kurang. Satu persatu mereka mulai pulang. Kami belum kelihatan di antara pengunjung. Arhul dan Endri akhirnya berkeliling mencari kami. Tapi nihil, mereka tidak menemukan kami. 

Sementara hari semakin sore. Jarum jam hampir menunjuk angka 18 (delapan belas). Teman-teman semakin gelisah. Mereka telah mengelilingi lokasi wisata, menanyai pengunjung apakah ada yang melihat kami. Tapi tidak seorang pun yang melihat kami. Ya kami memang tidak masuk di lokasi wisata tadi. 

Mereka lalu menyusun rencana, akan menunggu kami sampai pukul 18.00. Jika sampai waktu itu kami tidak ditemukan mereka sepakat meminta bantuan di desa bahkan berniat menghubungi BPBD.
Ohhh begitu resahnya mereka, mencari kami disaat kami lagi asyik dan tidak merasa cemas sama sekali. Kami tidak sadar bahwa waktu telah sore. Kami tidak tahu bahwa teman-teman kami gelisah mencari sejak tadi.

Perasaan Arhul semakin tidak enak. Dia hampir putus asa ketika kemudian dia melihat jalan selasar. Dia lalu mengajak Endri menyusuri jalan itu. Akhirnya mereka menemukan kami. Waktu itupun kami masih mengambil gambar.
Kami lalu diajak pulang. Diingatkan bahwa tidak baik berada di hutan saat menjelang malam. Kami seperti baru sadar dan segera menyudahi aktifitas kami. Tanpa rasa bersalah sedikit pun kami mengemasi peralatan lalu beranjak pulang. Bahkan masih sempat protes kalau kegiatan kami belum selesai. Arhul dan Endri hanya tersenyum kecut.

******

Selasa 10 September
Kami biasanya nongkrong di pelataran Galery UKM. Menikmati kopi dan roti bakar langganan kami. Lepas Isya aku menuju Galery UKM. Sebuah mesin ATM di tempat tersebut menjadi tujuan utamaku. Ternyata Arhul sudah duduk di meja (bookingan) kami. Teman-teman yang lain belum muncul. Dia lalu memesan milo panas dan roti. Sembari menikmati milo-nya dia lalu menceritakan upaya pencariannya pada Minggu sore kemarin. Aku menjadi terperangah, melongo dan sejenisnya. Sungguh aku tidak tahu bahwa mereka panik saat itu. Dan aku baru tahu malam ini. Dua hari setelah kejadian tersebut.

Aku berkali-kali meminta maaf. Aku bisa bayangkan betapa bingungnya dia saat itu.
“Kalau kalian tidak ditemukan, aku tidak pulang, aku minta tolong sama Mas Endri untuk mengabari orang di kampung untuk membantu kita mencari kalian. Aku juga meminta dia menghubungi BPBD atau apalah yang bisa mencari orang hilang di hutan.” Jelas Arul dengan mimik serius.
Aku geleng-geleng kepala mendengarnya. Aku bebar-benar tidak sadar bahwa kemarin itu telah membuat teman-teman kami resah.

“Maaf, aku dan Andev tidak tahu jika kalian mencari kami. Kami malah asyik ketawa-ketawa. Tidak menyadari jika hari semakin sore,” jelasku.
“Iya, yang kami takutkan, kalian hilang. Cuaca gelap bisa saja membuat kalian lupa kalian berada di mana. Tidak melihat jalan pulang, sementara waktu itu gelap mulai turun.” Lanjut Arhul.
Kami memang beberapa kali bermalam di hutan maupun di gunung. Tapi kami selalu bersama-sama, rombongan. Baru kali ini aku dan Andev pergi berdua, agak menjauh dari kerumunan.
Arhul lalu mengingatkan bahwa tidak aman menjauh dari kerumunan saat berada di hutan. Apalagi ketika menjelang malam. Bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar itu aku bergidik ngeri. Demi mengingat betapa tengkuk-ku terasa dingin saat aku mulai menyusuri jalan selasar, sore itu.

“Kami kan tidak jauh dari lokasi wisata. Apakah suara kami tidak kedengaran? Padahal aku dan Andev ngobrol, cukup keras suara kami.”
“Tidak sama sekali,” jawab Arhul.
“Yang membuat aku makin resah, aku naik ke baruga, mencari kalian dari ketinggian, tapi aku tidak melihat sama sekali.” Lanjut Arhul.
Padahal aku dan Andev berada tidak jauh dari Baruga.

*****

Buat teman-teman, terima kasih dan maaf. Terima kasih atas keresahan kalian saat kami tidak kelihatan. Ternyata masih ada yang peduli, dan maafkan telah membuat kalian capek mengelilingi tempat wisata dan sekitarnya demi menemukan kami.
Kalian bukan sekedar teman. Kalian adalah sahabat, dan bukan sahabat palsu

No comments: